Amsterdam, 27th May 2007
Indah’s Flat - Barentszstraat 69
08. 45 am - Breakfast Time

“Kamu nanti kalo mau sekolah lagi mendingan di sini aja, Teppy.
Di sini pemerintahnya banyak ngasih beasiswa lho.
Kamu cari aja tuh di internet, banyak infonya.”
Gue yang lagi sibuk ngoles-ngolesin roti dan naburan muisjes (meses) pun berhenti sebentar ngedengerin omongan Oom Endy barusan. Ini kayaknya udah kalimat yang kesekian kali yang Oom Endy lontarin selama gue ada di Belanda. Mungkin beliau udah “ngeh” juga kali yah ngeliat gue yang sibuk ngobrol mulu sama anaknya (namanya Indah) selama gue di  situ, dan menanyakan SEGALA MACAM HAL TENTANG BELANDA. He could sense that I have a big interest in Holland and yes, he was totally right.
Makanya saban kali Oom Endy mengeluarkan statement untuk nyuruh gue ngelanjutin sekolah di Belanda, selalu gue tanggapin dengan antusias: “Iya, Oom. Saya mau banget. Nanti saya cari informasinya di website-website, entar saya tanya Indah juga ya.”
EVERYBODY,
THIS IS A MAJOR ‘MUPENG.’
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

First things first, kalian semua butuh penjelasan kenapa pada tahun 2007 itu gue bisa nyangsang di meja makan  flat-nya Oom Endy di Amsterdam.
Jadi ceritanya di tahun 2007 kemaren gue, bareng sama dua temen cewek lainnya, sempet kerja selama 10 hari di Pasar Malam Besar/PMB (Tong-Tong Festival) di Den Haag, Belanda.
FYI, Pasar Malam Besar ini adalah festival Eurasia tahunan di Den Haag (kalo di sini kayak PRJ kayaknya) yang diadakan tahunan dan tahun di 2009 ini sudah memasuki usia 51 tahun. Anggapannya, kalo orang-orang Belanda nggak punya duit buat ke Asia Tenggara, dateng aja ke sini! Paling nggak mereka bisa ngerasain suasana “Timur” dan nemuin hal-hal berbau Asia di sini. East meets West gitu deh konsep festivalnya. (More info: http://www.tongtongfestival.nl/)
*Pasar Malam Besar  - May 2007*

Secara festival ini mengedepankan hal-hal berbau South East Asia, maka sebagai bagian dari benua ini, di festival ini loe juga bakal nemuin banyaaaaak banget hal-hal berbau Indonesia. Mulai dari performance (tari-tarian, musik: mulai dari keroncong sampe lagu TTM juga ada pas gue di sono!), pernak-pernik, cinderamata,  makanan (yang mana pada saat gue di situ, gue menemukan sebungkus Indomie goreng dan satu buah pisang goreng gede berharga SATU EURO = 12rebuan. NGEEEEKNGOOOK). Nggak lupa, baju-baju khas Indonesia dong!
Nah, ini dia lahan pekerjaan gue. Jadi begini sodara-sodara, Oom Endy pas maen ke Jakarta di awal tahun 2007 ketemu sama desainer “Batik Rosano” (sekarang jadi “Batik Rosso”) dari Jogja. Oom Endy memprediksi kayaknya batik-batiknya Rosano bakal sesuai sama selera pengunjung PMB, jadi Oom Endy mengusahakan supaya batik ini bisa diundang panitia PMB untuk jualan dan fashion show, DAN BERHASIL! Jadilah gue direkrut juga sama Batik Rosano, bareng sama dua temen cewek lain dan satu fotografer untuk memperagakan baju-baju batiknya merangkap jualan di booth selama 10 hari (1 hari, 12 jam kerja): AKOMODASI DITANGGUNG. :)
Memang, GRATIS ITU INDAH :D Huehehe…

*Waktu jualan di booth & Fashion Show*
Yah begitulah kisahnya gimana gue bisa kenal sama Oom Endy, warga negara Indonesia yang udah lebih dari 40 tahun tinggal di Belanda dan berkeluarga di sana, terus kenalan sama anaknya, Indah, dan juga temen-temen lainnya yang terus jadi berteman sampe sekarang.


*Tante Riki, Gue, Oom Endy, Indah di Flat mereka*

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Beberapa hal yang gue sadari setelah pulang dari Belanda:

  1. Bahwa ternyata gue sangat suka mengamati keadaan sekitar, kehidupan, dan perilaku orang-orang. (Lahir dari pengalaman berhadapan dengan para pembeli dan jalan-jalan di sono). Banyak hal yang bisa kita pelajari hanya dari mengamati.
  2. Traveling itu menyenangkan sekali dan merupakan cara “memperkaya diri” yang asik banget. Dan gue miris ngeliat warga Belanda (dan warga Eropa keseluruhan) yang tinggal ngesot ke negara-negara persekitaran untuk traveling. Lah kite?
  3. Gue demen banget bersosialisasi dan menjalin pertemanan, apalagi kalau dapet temen-temen baru dari berbagai negara, excited aja rasanya.
  4. Gue sangat tertarik mempelajari budaya negara-negara lain, as in mengetahui kebiasaan-kebiasaan dan hal unik apa yang ada di negara mereka. Gue seneng bisa bagi-bagi cerita mengenai kehidupan di Indonesia dan in returns bisa tau soal gimana kehidupan mereka di sana, in comparison with us. Bisa dapet pengetahuan dan pandangan-pandangan baru, and somehow I just feel “connected” with the world.
  5. Gue merasa amat nyaman berada di lingkungan yang well managed dan well organized. *Ya iyalaaaaaah*
  6. Gue iri setengah mati sama pelajar-pelajar Belanda. Si Indah nggak bayar uang sekolah + buku sampe SMA (kuliah tetep bayar). Pas jadi mahasiswa biaya public transportnya digratisin (ada juga yang nggak full gratis, tapi diskon 40%, kalo nggak salah pas weekend). Kalo kata Oom Endy, “Orang yang mau pergi belajar,  emang nggak seharusnya ‘diberatkan’ (dengan biaya).” Belum lagi perpustakaan yang keren dan lengkap abis. Salah satunya yang pernah gue lewatin di Den Haag,Bibliotheek Den Haag. (Gede abis!) Intinya, gue sangat iri dengan perhatian pemerintah Belanda buat warganya di bidang pendidikan. Yang kemudian…
  7. Membuat gue berjanji sama diri gue bahwa SOMEDAY SOON, GUE HARUS BALIK LAGI KE SANA….
  8. ….buat sekolah lagi :D

Kenapa gue pilih sekolah lagi?
Karena menurut gue kalau traveling doang, walaupun seru, kurang lama untuk bisa memenuhi hasrat nomer 1 - 6 gue. Kalo sekolah lagi: ilmu dapet, traveling ke negara-negara Eropa dapet (amin Ya Tuhan kucurkan rejeki-Mu), suasana baru dapet, pengalaman dan pelajaran dapet banget, jaringan pertemanan pastinya, dan sebagai poin plus sukur-sukur pacar (bule) juga dapet, hiahahaha. *niat menyimpang*
Tapi kalo loe liat urutannya, semua yang gue mau itu incorporated within 1 decision: sekolah di sana.
Mari kita lanjut. Kenapa mesti Belanda?
Sejak pulang dari kerja 10 hari di sana sampe saat ini, gue jadi semakin tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Belanda. Yah ini memang ada  karena ada personal interest dan ikatan emosinya sih (Secara baru sekali-kalinya ke luar negeri, ya ke Belanda itu. Gratis, dan dapet temen-temen asik pula). Gue sering e-mail-e-mail-an sama Indah dan temen-temen lainnya, tukeran cerita, termasuk cerita soal budaya, kebiasaan, atau hal-hal unik dari kehidupan di negara masing-masing (selain gosipin soal cowok pastinya, hehehe…). Gue juga gabung di komunitas online mereka, semacam Friendster-nya sana deh, namanya www.hyves.net. Dari situ gue dapet beberapa temen warga negara Belanda baru lagi.
Gue juga jadi sangat tertarik dengan buku-buku traveling atau novel dan sebangsanya yang mengangkat setting di Eropa (apalagi kalo soal Belanda). Gue bikin research kecil-kecilan soal belajar di sana dengan nanya-nanya sama temen-temen gue di sana, browsing di website, dan  menggabungkannya dengan pengalaman 10 hari kerja di Den Haag.
Dari hasil browsing di sini, gue dapet informasi kalau Belanda menawarkan 1402 international study program dan courses. Lalu dari yang gue baca di web-nya Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Eindhoven (salah satu kota di Belanda) biaya kuliah di Belanda minimal butuh 9300 Euro (sekitar IDR 139 Juta dengan kurs 1 Euro  = IDR 15.000). Mahal ya boooook? Jangan khawatir! Masih ada jalan yaitu… berburu beasiswa!
Secara tidak semua orang dilahirkan setajir Paris Hilton, cara inilah yang bisa ditempuh buat mencapai impian gue sekolah di Belanda (AMIN). FYI, Belanda masih merupakan negara Eropa terbesar pemberi beasiswa untuk Indonesia. Gue baca di sini, pihak Netherlands Education Support Office (NESO) Indonesia menyatakan kalau tahun ini Belanda menyediakan 300 - 400 beasiswa untuk mahasiswa Indonesia. Terus setelah ngeliat di www.nesoindonesia.com, gue jadi tahu kalau ada tiga penyedia beasiswa: (untuk Indonesia): StuNed (Studeren in Nederland = Studi di Belanda), Netherlands Fellowship Programme, dan Huygens Scholarship Programme. Buat detail lebih lanjut, loe semua klik langsung aja ke www.nesoindonesia.com. Nah terus kalo elo mau cari bantuan dana buat belajar, berkunjunglah ke www.grantfinder.nl.

Oh ya! Masih dari NESO Indonesia, program-program yang ada yaitu: Bachelor, Master, Short Course, sama Tailor-made training programme (kalo yang ini biasanya program training khusus yang disiapin untuk peningkatan mutu staf perusahaan, konsorsium/aliansi, dan kemitraan).
FYI, dari yang gue baca di www.studibelanda.com, mengenai sistem pendidikannya sendiri terbagi dua. Jadi di Belanda ada Hogeschool (University of Applied Sciences) yang orientasinya lebih ke praktek, tapi  mereka cuma nyediain Bachelor (biasanya makan waktu 3 tahun) dan Master Program (durasi kira-kira: 10 - 24 bulan), nggak ada Ph. D (biasanya makan waktu empat tahun). Ada juga Universiteit (University). Kalo universitas yah pada umumnya universitas aja, lebih banyak asupan teorinya dan mahasiswa dituntut untuk menggunakan ilmunya secara mandiri. Terus kalo mau nerusin S3 (jadi PROFESOR cing!), harus melalui Universiteit.
Masih dari postingan di www.studibelanda.com, NESO Indonesia pernah menyatakan sekarang Indonesia menempati urutan ke-5 jumlah pelajar terbanyak di Belanda (data terkahir di tahun 2007/2008: ada 1. 450 mahasiswa), setelah Perancis (ranking 4), Belgia (ranking 3), China (ranking 2), dan Jerman (ranking 1). I surely wanna be one of them!
Nah, pertanyaannya sekarang adalah… kite kuliah pake bahasa apa? Secara kelasnya internasional, tentunya kita pake bahasa Inggris dong yah.
Ini dia yang harus di-highlight.
Dulu, beberapa saat sebelum ke Belanda, gue dan tim yang mau berangkat sampai berencana buat kursus bahasa Belanda dulu, paling nggak, nggak gagu-gagu amat gitu pas nyampe sana. Ndak taunya, lesnya kok mahal juga yaaaaaa… Hihihi. Walhasil, gue udah siap-siap aja dah pake bahasa Tarzan sama pembeli nanti. TAPI!

Begitu sampe di sana, gue lega banget. I really admire how forward thinking those people are, karena mereka sudah sangat prepared berhubungan dengan dunia luar (internasional): bahasa Inggris mereka cangcing bok! Yang bikin gue kagum, ya karena sebenernya bahasa ibunya bukan bahasa Inggris. Selama 10 hari gue di sana, dari berbagai orang yang gue ajak ngobrol (secara tiap hari ketemu pembeli), CUMA TIGA ORANG yang nggak bisa bahasa Inggris. Cakep nggak tuh.
Hal ini juga yang kemudian menjawab kebingungan gue. Jadi selama PMB, gue ketemu banyak mahasiswa Indonesia yang lagi kerja part-time di situ. Gue tanya-tanyalah soal bahasa Belanda ke mereka, karena asumsi gue, kuliah di sana berarti kudu bisa bahasa Belanda. Ternyata masih banyak yang bahasa Belandanya nananunu (nggak lancar). Ya terang aja, kuliahnya berbahasa Inggris, warganya juga! Cihuy dah.
Tapi biar begitu, kalo mau kuliah di sana juga nggak semudah itu. Paling nggak  TOEFL kita harus 550 atau kalau di IELTS, skornya harus 5, 5 - 6, 5. Cuma gue yakin, kalo niat, pasti bisa kok. ;)

You know what I love the most when I was there? The chance you have to meet new people, build relationship, and expand your connection with the world. Seeing all the beautiful places and experiencing new things are fun, but more to it, it’s the people you meet. ;) Sebagai informesyen, Belanda adalah negara multikultural, dan Amsterdam adalah kota dengan nationality paling banyak di dunia (176 nationality!) dan secara keseluruhan ada 190 nationality di Belanda. (dari: http://www.dutchamsterdam.nl/286-amsterdam-nationalities)
Gue emang belom berkesempatan belajar dan stay lama di Belanda. Tapi coba gue ambil contoh dan tarik garis dari pengalaman pertemanannya.
Selama di sana, gue ketemu dengan orang dari Spanyol, Perancis, China, Indo-Belanda (banyak!), Jerman, Indonesia, Turki, Suriname, Maroko, Belgia, dan Uruguay. So you see? It’s like having an international conference in one country, you meet people from almost everywhere!
Nah kalo dari segi sambung menyambung hubungan pertemanan, fortunately, jaringan jadi tambah panjang.
Dari kerja di situ, gue jadi kenal sama Jonas, temen dari Spanyol yang jadi  salah satu panitia PMB (BISA 5 BAHASA TERMASUK INDONESIA!!!!), Olivier dari Perancis (INI BISA 4 BAHASA, INDONESIA JUGA BISA!), dan kemudian sekitar 10 orang lagi warga Belanda, termasuk di dalamnya Indah, Mandy, Merie, dan Diana. Berteman dengan mereka, selain seru dan bisa tukeran informasi, juga bisa memperluas pertemanan lagi.
Contoh:
Waktu temennya Indah magang di Indonesia, gue yang diminta untuk jadi “guide” mereka selama di Jakarta (guide gadungan sih gue, hihi). Dari kenal sama temennya Indah, gue jadi kenal dengan teman-teman lain dari Belanda, Swedia, Ceko, dan teman  sesama Indonesia yang pernah kuliah di Belanda.


*Hikmah perluasan jaringan pertemanan.
Sambil menyelam minum air = sambil nge-guide juga ngegaet.
WAKAKAKAKAKAKAK*

Dari nge-guide mereka, gue kemudian diminta lagi sama mereka untuk nge-guide temen mereka yang lain yang dateng ke Jakarta. Ada orang Ceko (yang sempet magang di Jepang dan Hongkong, terus kuliah di Perancis) dan orang Belanda. Dan mereka menawarkan untuk nge-guide gue kembali, bahkan disuruh hemat biaya penginapan dan nginep aja di rumah mereka, kalau seandainya gue dateng ke negara mereka. Menurut gue ini simbiosis mutualisme yang asik banget, kita kayak punya homebase di berbagai negara. Doesn’t it sound like you’re part of the global community? Ke mana-mana diterima! Huhuy!
Itu baru urusan traveling. If we look beyond it, kalau suatu saat nanti kita butuh informasi soal negara mereka (atau negara-negara tempat mereka pernah magang dan kuliah), atau bahkan soal kerjaan di negara tersebut, paling nggak ada temen yang mengerti negaranya dan bisa membantu kan? Bahkan bisa juga dapet kerjaan dari temen loe! (Koneksi, hehehe…) Sampai saat ini, selain memperkaya pengetahuan tentang kultur mereka, dan bahkan beberapa jadi temen akrab, keberadaan teman-teman lintas negara dan benua sudah amat membantu gue. Salah satunya waktu gue dikasih tugas kampus tentang kehidupan di negara lain dan pas gue lagi nyusun tulisan ini. They provide me with such useful information. :)
Sebenernya masih banyak hal yang mau gue tulis di postingan ini. Masih banyak yang mau gue bagi tentang bagaimana belajar di Belanda bisa jadi salah satu langkah buat kita untuk going global. Cuma untuk menghindari tulisan yang terlampau panjang, nanti gue lanjutin di postingan berikutnya ya! You have to know not only from my side, but reading it from peeps who have actually studied there! YES, I did interview them and am gonna share it to all of you. Lastly, when you plan to visit a country, or even more, to stay, you have to know what the country has to offer. Don’t you think? Nah, gue juga pengen bagi-bagi cerita soal itu, yah at least dari pandangan gue aja sih. Aight then, I’ll see you on the next post, peeps!

For more detailed info about Studying in Holland, please visit:
http://www.studidibelanda.com
Yahoo Messenger: studidibelanda (Senin-Jumat: 14.00-15.00)
http://www.nesoindonesia.com
http://www.nuffic.nl/

Sebelum kuliah mau pemanasan dulu dengan sumer school mungkin?
Cobain di Utrecht! Info lengkapnya: http://www.utrechtsummerschool.nl/

Atau tentang Belanda (dan kehidupannya) sendiri di:
www.holland.com
www.inholland.nl/INHOLLANDCOM/studying+at+INHOLLAND/Living+in+the+Netherlands/ Sumber tulisan:
http://www.dutchamsterdam.nl/286-amsterdam-nationalities
http://www.dobdenhaag.nl/Frontpage_EN.aspx?language=english
www.inholland.nl/INHOLLANDCOM/studying+at+INHOLLAND/Living+in+the+Netherlands/
www.grantfinder.nl
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/02/02/60469/89/14/Lembaga_Pendidikan_Tinggi_NESO_Belanda_Beri_Beasiswa_untuk_Mahasiswa_Indonesia_
http://www.nesoindonesia.com
http://www.nuffic.nl/
http://www.ppi-eindhoven.nl/pi/info/studidibelanda/
http://www.studidibelanda.com Sumber foto:
Koleksi pribadi
*SOMEBODY FLY ME BACK THERE, PLEASE!!!*
Cita-cita selanjutnya: Bisa blogging langsung dari Belanda!
Talk to y’all later ;)

~Teppy~

Source: http://thejosephines.blogdrive.com/archive/220.html