Ngangsu adalah bahasa Jawa. Kalau ditranslit dalam bahasa Indonesia berarti mencari. Kalau ada orang bilang ngangsu kaweruh maka artinya menjadi mencari ilmu. Di desa saya kalau sedang musim kemarau banyak orang ngangsu ke sumur-sumur di dekat sungai karena sumber airnya yang masih lancar. Intinya, istilah ngangsu digunakan untuk mencari sesuatu yang bermanfaat untuk kita. Begitulah sederhananya.

Judul yang saya tulis di atas dengan demikian bermaksud mencari sesuatu ke negeri Belanda. Tentu bukan mencari air atau ngangsu banyu karena kita sudah punya, bahkan terkadang berlebih dan akhirnya banjir, tapi mencari pengetahuan atau studi di sana. Minimal pengetahuan yang harus dipelajari adalah bagaimana cara mengelola air agar tidak kebanjiran atau terkena rob karena negeri Belanda dikenal sebagai negeri kincir angin yang daratannya saja berada di bawah permukaan air laut.

Tapi tentu tidak hanya itu, banyak hal yang bisa diangsu dari Belanda. Konsep-konsep pembangunan masyarakat dan teknologi sangat ditekankan di Belanda sebagaimana ciri umum dari negara-negara maju. Kata Toffler (1998) kita sekarang ini sudah masuk di gelombang ketiga peradaban. Itu ditandai dengan dukungan hebat dari teknologi yang canggih, teknologi informasi, bioteknologi dan komputer.

Berbagai dukungan itu membuat dunia ini makin terbuka, mengglobal. Orang bisa menonton aksi Britney Spears atau Madonna di depan berhala kecil alias teve di rumah sambil minum kopi hangat. Orang dari berbagai belahan benua bisa berdiskusi atau sekadar guyonan karena ada fasilitas internet, chatting, facebook atau blog.

Pokoknya, globalisasi sudah mencampurbaurkan apa saja. Dari orang kulit putih sampai benar-benar hitam bisa saling mengenal, tapi juga berkompetisi. Karena keterbukaan, apalagi di era yang disebut-sebut orang sebagai pasar bebas, dari eksekutif perusahaan, buruh, tukang becak, tukang bakso, sampai tukang pijit pada saatnya nanti akan mengalami persaingan yang riuh. Kalau bagi saya yang penting sportif, tidak gontok-gontokan, sikut-sikutan, apalagi jotos-jotosan alias anarkis bin separatis.

Kalau sudah begitu maka ngangsu ke Belanda tadi menjadi penting. Menurut data yang beredar, 11 universitas terkemuka Belanda masuk dalam kategori 200 universitas terbaik dunia. Kalau sudah diakui, maka kualitas sudah pasti dijamin dan pengajaran di sana memang advanced. Ibarat makanan, studi di Belanda itu berkualitas dan tidak kadaluwarsa.

Sejak lama Belanda juga telah mengembangkan pendidikan internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Ini memang tidak aneh karena masyarakat Belanda sendiri adalah masyarakat yang penguasaan bahasa Inggrisnya paling bagus dibanding negara-negara Eropa non Inggris lainnya. Dengan kondisi ini maka Belanda ibarat miniatur komunitas global.

Ditambah lagi menurut peta dunia, karena saya belum pernah ke sana, Belanda berada di tengah-tengah daratan Eropa. Kalau sesuatu di tengah berarti menjadi berbagai ajang pertemuan dan pusat; bisa jadi temu budaya, temu agama, pengetahuan, ras dan lain-lain. Konon sejak pertengahan abad 17 kota Amsterdam itu telah menjadi pusat dagang di Eropa sehingga dalam ilmu-ilmu menejemen, bisnis dan ekonomi Belanda tetap menjadi rujukan utama hingga saat ini.

Temu agama dan budaya di Belanda menjadikan negara itu sebagai negara dengan tingkat toleransi dan multikulturalisme yang tinggi. Karena alasan ini banyak orang yang betah tinggal di Belanda lama-lama dan bahkan menetap, contohnya di Suriname yang merupakan anak turun Jawa. Hubungan sejarah kolonisasi juga menjadikan Belanda sebagai tempat yang penting menuju catatan-catatan penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini.

Yang tidak kalah penting karena letaknya di tengah itu, Belanda adalah tempat yang tepat untuk memulai perjalanan keliling Eropa. Letak negeri yang banyak bunga tulipnya ini sangat dekat dengan kota-kota dari negara lain seperti Brussel, Madrid, Paris maupun ke Berlin. Yang pasti pesona Belanda akan membuka lebar jalan kita dalam mengarungi diri sebagai komunitas global.

Nah loh?! Kalau sudah begini siapa yang tidak ingin ngangsu ke Belanda!

source URL: http://najibsatoe.blogspot.com/2009/04/ngangsu-ke-belanda.html