Facebook dan social networking di dunia maya yang lain membantu kita–para anak muda yang haus dalam perburuan mencari teman dari seluruh dunia–merealisikan keinginan untuk mendapatkan kenalan tanpa harus repot-repot mengelilingi dunia. Selain tidak memerlukan biaya besar, media internet memang sangat mudah digunakan. Cukup duduk dan menarikan jari-jari di atas keyboard komputer maka dalam beberapa saat kita sudah bisa menyandang anggota dari sebuah komunitas.

Komunitas di dunia maya memang menarik, namun alangkah baiknya kalau bisa menjadi bagian dari sebuah komunitas yang ada di dunia nyata. Terkadang saya iri dengan teman-teman saya yang sedang belajar di luar negri karena itu artinya mereka punya akses yang lebih luas untuk punya teman dari segala belahan bumi. Negara-negara yang memiliki reputasi sebagai negara pendidikan tentunya akan lebih berpeluang mempertemukan kita dengan orang-orang dari negara lain. Salah satu negara yang menjadi favorit mahasiswa Indonesia sebagai negara tujuan studi adalah Belanda.

Jika dilihat dalam fakta sejarah, Belanda yang menjajah Indonesia selama 3,5 abad harusnya tidak memiliki hubungan yang baik dengan bangsa kita, namun justru itulah yang membuat Belanda menjadi negara yang istimewa di mata pelajar Indonesia. Beberapa teman yang sudah kuliah di negri kincir angin ini mengatakan sering melihat kebudayaan Indonesia berbaur dengan budaya Belanda, mulai dari makanan sampai bahasa. Bahkan ada juga kursus pencak silat ala si Pitung di salah satu kota di Belanda.

Feels like home. Itu kesan yang di dapat dari negeri Belanda. Dan tentunya, dengan pendidikan yang diakui internasional serta menjadi bagian dari sebuah komunitas dunia, siapa yang tidak tertarik untuk datang ke Belanda dan mulai menuntut ilmu?
Setahun belakangan ini saya sedang merencanakan melanjutkan studi untuk mengambil jenjang master di luar negri. Beberapa pameran pendidikan dan info-info dari teman yang sudah kuliah di negri orang sudah saya lahap. Kebanyakan dari mereka menganjurkan untuk mendaftar, jangan melalui lembaya konsultan tapi langsung menghubungi international office masing-masing universitas. Kata mereka, cara ini memang lebih ribet tapi biaya yang dikeluarkan jauh lebih kecil.

Berbekal tips dan trik dari para senior yang saya temui di forum dan blog, saya mulai mencari universitas yang memiliki jurusan yang saya cari. Sayangnya, proses ini nggak segampang yang saya kira. Kendala yang pertama adalah website resmi universitas tidak menyediakan versi bahasa Inggris. Universitas yang seperti ini langsung saya cap tidak menerima mahasiswa asing, karena kalau iya, harusnya mereka lebih terbuka dalam memberikan informasi dengan akses yang mudah. Kendala lain adalah tidak tersedianya program studi berbahasa Inggris. Sedang hambatan lain yang membuat jengkel adalah international office yang lambat dan kurang bersahabat.

Beberapa universitas di daerah Asia sampai tulisan ini ditulis tidak pernah membalas e-mail saya padahal sudah beberapa kali saya kirim. Saya tidak mengeneralisasikan, tapi kalau hal ini terjadi berulang kali, tanpa sadar pandangan negatif itu sudah terpatri di otak.

Setelah sekian lama mencari, universitas yang sudah jelas akan saya tuju adalah Maastricht University. Alasan utamanya karena saya tidak mengalami satupun kendala yang saya sebutkan di atas. Bahkan, direktur dari program studi yang saya inginkan bersedia membalas email saya yang menanyakan tentang detail proses pembelajaran di universitas tersebut.

Di Indonesia sendiri, Neso tidak membiarkan calon mahasiswanya berada dalam gelap. Lembaga non profit yang didanai oleh pemerintah Belanda ini membantu memberikan informasi yang diperlukan untuk belajar di Belanda. Mulai dari informasi tentang dokumen sampai beasiswa yang ditawarkan. Karena keuangan keluarga saya juga pas-pasan maka berita tentang beasiswa ini cukup menggiurkan. Di Surabaya, kantor Neso bertempat di International Village Universitas Surabaya. Jika kita mencermati website Neso, ternyata ada 3 pilihan beasiswa yang ditawarkan pemerintah: StuNed, NFP dan HSP. Ketiganya punya kriteria masing-masing. Selain itu masih ada beberapa pilihan beasiswa yang lain yang bisa dicari melalui grantfinder.

Masih ada satu ganjalan sebelum benar-benar memutuskan untuk studi di Belanda yaitu tentang pekerjaan yang harus dicari setelah lulus. Hampir semua kenalan yang saya tanya mengatakan kalau setelah luluspun tidak perlu khawatir karena akses untuk masuk ke dunia pekerjaan telah disiapkan tanpa disadari yaitu dengan keikutsertaan ke dalam komunitas dunia. Orang kuno selalu bilang banyak anak banyak rejeki, tapi di dunia yang sudah berkembang sekarang ini, banyak temanlah yang mendatangkan banyak rejeki. Hubungan sosial yang luas tentu saja akan membuat kita mengetahui lebih banyak hal, termasuk adanya kesempatan berkarir.
Sumber:  http://quavi.multiply.com/journal/item/339