Mama: “Mbak puput, jangan ke Belanda ah abis lulus.”
Saya: “Emang kenapa sih, mams?”
Mama: “Belanda tuh jauh mbak, kamu tuh cewe. Nanti kalo sakit atau kenapa kenapa gimana? Kan jadi tambah repot. Mau S2 kok musti jauh-jauh. Udah, S2 di Indonesia ajah, masih banyak universitas yang bagus”
Saya: “……”
Dear Mams,
Percakapan ini adalah percakapan yang kita lakukan beberapa bulan yang lalu ketika mengutarakan niat Puput ke Belanda untuk meneruskan jenjang S2. Aku tau, mama adalah salah satu contoh dari banyak orang tua yang masih berpikiran “kolot” atau bahasa kerennya konservatif, di tengah-tengah jaman yang semakin mengglobal ini. Bahkan mama masih membawa-bawa masalah gender dalam urusan yang beginian, seolah-olah wanita akan lemah dan lebih banyak membutuhkan bantuan jika tinggal jauh dari keluarga.. *sigh*
Hummph, andaikan mama tau, sebenarnya bukan hanya permasalahan universitas bagus atau tidaknya. Aku tahu dan paham bahwa banyak juga universitas yang bagus di sini. Tetapi keinginan melanjutkan S2 di Belanda semakin besar karena mendengar info tentang melanjutkan studi di Belanda, dan bahwa pada tahun 2008 ada 2 universitas Belanda (University Utrecht dan University Leiden) berada dalam top 100 of world universities. Terus yang jadi keunggulan, mayoritas universitas disana sudah menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, ditambah fakta bahwa Bahasa Inggris sudah banyak dipakai dan menjadi bahasa pergaulan di sana.
Selain itu karena Puput benar-benar ingin “belajar dan studi” tentang hidup yang sesungguhnya di negeri orang, setelah selama 5 tahun belajar hidup di kota orang, Bandung. Aku ngerasa masih haus akan pengalaman dan masih ingin melihat warna dunia lebih banyak, mams. Aku masih merasa bodoh dan naif.
Mama tau?
Akibat kedekatan historis Belanda dengan Indonesia, Puput gak akan merasa sendirian disana karena jumlah WNI yang tinggal di Belanda lebih dari 15.000 orang ditambah dengan jumlah mahasiswa Indonesia yang cenderung terus meningkat. Apalagi dengan adanya keberadaan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda. I believe I still can feel the smell of home from there because I’ll become a part of this new family. Tetapi disamping perasaan yang homy itu, Puput juga pengen ngerasain perasaan excited karena bisa merasakan suasana yang begitu berwarna, berada di dalam satu lingkungan negara dimana terjadi pembauran ide-ide, budaya klasik barok dan budaya populer berbaur menjadi satu, begitu juga dengan budaya timur dan barat.
Mungkin mama khawatir akan masalah pengaturan keuangan Puput, mama sering bilang kalo aku boros, tukang jajan dan jalan-jalan. Memang ma, Belanda terletak di jantung Eropa dan itu akan lebih memudahkan aku berkunjung ke daratan Eropa lainnya, apalagi di sana sudah menggunakan mata uang Euro yang menggantikan Gulden sejak disepakati penggunaannya tanggal 1 Januari 1999 dan itu yang membuat aku lebih leluasa dalam bertransaksi di hampir seluruh daratan Eropa. Tapi mama gak perlu khawatir. Aku berjanji akan mengambil part-time job demi mensupport keuanganku, apalagi mayoritas mahasiswa di sana menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, jadi aku bisa ngirit dan lebih sehat tentunya.
Atau mama takut aku ga betah karena masalah makanan?
Well, don’t you worry mams. Pada tahun 2006 tercatat ada 10 restoran Indonesia di Belanda.Kalo lagi males masak dan apesnya aku ga ktemu resto Indonesia, aku bisa ke resto Cina, Jepang, India yang banyak terdapat disini, atau mungkin ke McDonald’s yang nampaknya rasanya udah jadi global dan cocok di lidah semua orang. Tapi untuk lebih iritnya sih, masak adalah solusi terbaik ma, apalagi di Belanda gak gitu susah nemuin bahan-bahan untuk masakan Indonesia. Di Belanda juga ada China Town yang biasanya menjual bahan-bahan masakan timur kalo aku susah ktemu bahan masakan negeri sendiri.
Kalo mama khawatir sama masalah tempat tinggal, jangan juga khawatir. PPI Belanda juga bisa aku mintain tolong tentang informasi housing dan segala macem tetek bengeknya tinggal di sini.
Oia. Mama pernah nonton Eurotrip?
Hmm, pastinya enggak yah. Klo pernah, pasti mama bakal tau sama yang namanya the famous Red Light District of Amsterdam where all the liberality-worshipers gather within one place. The legal prostitution, the legal marijuana and cannabis, and the legal same-sex marriage.
Mama pasti pernah mendengar ribut-ribut tentang rencana kebijakan Obama yang akan melegalkan aborsi, kan? Nampak jargon Amerika sebagai negara yang liberal dipatahkan oleh Belanda dalam hal kebijakan ini karena Belanda sudah melegalisasi aborsi, euthanasia, marijuana dan cannabis, sampai same-sex marriage. Yah, walaupun dibalik semua kebijakan itu masih terdapat beberapa kontroversi.
Yes, I want to experience and witness it all by myself, because I believe that’s what made Netherlands as a unique country. Surely you can’t find it all anywhere, blend in one country, except in Netherlands. More or less, Netherlands has inspired me to reach my dream of study and living abroad.
Aku pengen banget sekolah di tempat yang di foto disebelah mams, di Utrecht University. Alhamdulillah klo dapet beasiswa. Selain aku pengen merasakan kurikulum belajar di Belanda yang pastinya beda dengan Indonesia dan belajar di kelas yang pake bahasa Inggris; aku pengen punya temen Yuki dari Jepang, Antonio dari Italia, Herman dari Jerman, Vladimir dari Rusia, Cho Chang dari Cina, Lynn dari Amerika, Erik dari Belanda, Sandra dari Amerika, Siti dari Malaysia, sampai Lilis dari Indonesia.
Aku pengen ngerasak’e numpak kreto ning tengah dalan gedhe, metik kembang tulip nganggo sandal wong londo sing koyo bakiak, poto-poto ning ngisor kincir angin karo ngarep gedung sing nyeni banget, nggawe pe er ning taman kota, nonton kroncongan ning KBRI, nduwe konco sing lesbi opo ra homo, terus sopo ngerti yen bali isoh nulis puisi akeh koyo mbak Rieke Diah Pitaloka sing nduwi buku judul’e Renungan Kloset, dari Cengkeh sampai Utrecht: Kumpulan Puisi.
Mams, please don’t be worry and panic.
Tidak mentang-mentang aku berada di negara yang nampaknya legal melakukan semuanya, maka aku akan bertingkah semaunya. Insya Allah aku akan diberikan kekuatan dalam menjaga diriku, juga mengontrol nafsuku dalam segala hal. Aku janji untuk inget terus akan pesan mama.
By living there, I know I would not walk my life on comfy cotton anymore, but on harsh strong rocks. Surely, I am more than realise about the consequences.
But the most important thing, I’ll gain more lessons which can make me more mature than before.
Because I’m not only wanna feel to live and study there; but I also want to witness, hear, feel, learn, and alive.
Warmest love from your dearest daughter,
Putri Trapsiloningrum
——————————-
source URL: http://puputpunyacerita.blogspot.com/2009/04/jangan-studi-di-belanda.html
