Seorang teman sedang menuntut ilmu di Rotterdam kebetulan sedang online. Tiba-tiba dia upload foto para senior yang bergaya ala Holland maid.

Bikin ngiri gag sih???

Chatwinktwink : Mas2. enak ya mas di Belanda sono
Yakamadi : ho’oh
Yakamadi : temanku dari sluruh dunia
Yakamadi : wkwkwkwk
Chatwinktwink : iwaw…
Yakamadi : ya gag melulu dari belanda.
Yakamadi : Ada dari china, india, prancis, afrika, arab
Yakamadi : jadi satu semua
Yakamadi : belanda jadi mini dunia *tssaahhh

Kalau ada yang bilang dengan studi di Belanda merupakan tiket untuk komunitas global, aku setuju banget. Kenapa? Karena berguru di Belanda (seharusnya) tidak hanya sekedar hanya semata-mata hanya untuk menuntut ilmu. Untuk belajar. Dengan studi di Belanda, ada value added yang bisa kita dapatkan, yaitu salah satunya membuat kita mampu berbaur dengan komunitas global. Tidak seperti di komunitas maya. Kita memang bisa berbaur dengan mereka dengan saling berkenalan, ‘coret-coret di dinding’. But you know lah, practice makes perfect. Dengan terjun langsung ke dunia nyata, kita jadi lebih ngerti how to deal with them.

Tapi perlu diingat kalau studi di Belanda sebenarnya bukan hanya sekedar sebagai tiket untuk menuju komunitas global, to meet the international challenge, tapi sebaiknya kita harus punya misi yaitu to win the international challenge. Jadinya sepulang dari negeri kincir angin tersebut, kita jadi (harusnya) get something. Gak cuma sekedar jadi kambing congek. Pulang gag cuma bawa gelar dan ijazah doank. Tapi bawa “sesuatu” yang bisa dikonstribusikan ke negeri sendiri, Indonesia tercinta :begh”

Whether the mission accomplished or not, itu semua tergantung dengan bagaimana kita memanfaatkan sarana tersebut. Kemampuan kita untuk berbaur dengan pelajar-pelajar asing lainnya itu juga penting. It reflected from how we treat them as global society. Seperti contohnya adalah bagaimana cara kita untuk menjadi seseorang yang openminded, dan tak kalah pentingnya adalah bagaimana kita bisa menerima perbedaan di antara mereka dan menjadikannya sebagai pembelajaran bagi kita. Karena terbukti kalau orang yang terbiasa bekerja sama dengan lingkungan yang heterogen, decision making prosesnya bakal lebih berkulitas daripada orang yang hanya terbiasa dengan lingkungan yang homogen.

Tapi kenapa kok di Belanda?
Pertama, menurut temanku, orang Belanda itu sangat welcome sama orang asing. Ini aku kutip dari pembicaraan di YM

Chatwinktwink : Kalo orng Belanda sendiri itu kyak gmn toh?
Yakamadi : klo mnurutku ne yee…
Yakamadi : klo orang2ny se welkom bgt ma orang asing
Yakamadi : palagi indo
Yakamadi : kooperatif bgt lah
Yakamadi : jd misalny ne ya
Yakamadi : kmu kliatan bingung gt djalan, tar da yg nymperin gt
Yakamadi : nanyain da bs dbantu g

Hmmm…it will make us feel at home.

Kedua, Belanda bisa menjadi excellent base untuk mampir ke negara Eropa lainnya. Mau kemana-mana deket. Tinggal “loncat” aja (I wish bener-bener bisa cuma tinggal loncat). Secara Belanda itu tetanggaan langsung dengan Jerman, Perancis, Belgia. Then, it will help you much in exploring their culture, jadi kita bisa belajar aspek-aspek sosial dan budaya negara-negara sekitar, dan warga dunia (dari foreign students lainnya).

Ketiga, konon katanya you don’t have to understand Dutch, almost all of them understand English. Serius. Hampir semua universitas menawarkan program internasional, dimana bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Untuk percakapan sehari-hari aja, kita hanya cukup menguasai bahasa Inggris saja. Enak kan?

Jadi teringat perbincangan dengan seorang teman yg mau melanjutkan studi ke Belanda.

Aku : “My, lo masi les Belanda?”
Amy : “Gag, Cha.”
Aku : “Lah…tapi lo jadi ke Belanda kan?”
Amy : “Iya, tapi kan lo gag perlu mahir bahasa Belanda buat bisa studi ke sana.”
Aku : “Ooo…gitu”

See…Tapi menurutku sih, walaupun mereka ngerti bahasa Inggris. Bisa ngomong pake bahasa Belanda lebih bagus. It’s a plus. Mereka bakal seneng banget kalo kita bisa ngomong dengan bahasa ibu mereka. Yeah,,,little2 sih I can :p

Keempat, Belanda kaya akan budaya, dan mereka sangat menghargai budaya mereka. Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya museum sejarah dan seni. Psst…museum madame tussauds itu ada di Amsterdam loh. Gedung-gedung tua yang cantik. Whoa…I can’t wait to take pictures.

Noni Belanda kesasar

Selain itu di Belanda sering diadakan festifal seni, seperti Holland Festival of Old Music, the Wharf Area Theatre Festival dan masih banyak lagi.

Kelima, aduh…kayaknya kualitas pendidikan di Belanda ga usah ditanyain lagi deh. Perguruan tinggi disana tuh terbukti mampu bersanding dengan perguruan tinggi lainnya kayak Harvard University dkk. Contohnya University of Amsterdam masuk dalam top 100 best university in the world menurut QS Top University. Waw…Makanya ga heran kalau banyak mahasiswa asing berguru disana.

Ntar bisa belajar bareng kayak gini loh, seru kan?
Nah, dari kelebihan-kelebihan itu bakal membantu kita untuk membangun link atau network dengan warga dunia. Kita bakal kenal someone from South Africa, Turkey, China, France, America, etc. Keren.

Yak…kalau kita berhasil berbaur dengan warga dunia lainnya, harapan kita untuk bisa conquer global challenge akan semakin mudah kita genggam. Apalagi di Summer School di Utrecht, setiap tahunnya ratusan orang dari berbagai macam belahan dunia bakal gather together di sana. Mereka akan saling berbaur antara satu dengan yang lain. Saling berdiskusi, berbicara dari hati ke hati. Psstt…siapa tau nanti ketemu jodoh :p aww…

Weits, tapi kita harus tetap hati-hati. Culture shock bakal menimpa kita kalau kita ga siap mental. Being in global community bukan berarti kita harus bisa menyerap semua kultur mereka. Yah, ambil yang baik-baik aja lah. Remember, gimana pun juga kita adalah orang Indonesia. Kata dosenku nih, walaupun kita di lingkungan internasional, kita harus punya prinsip “Think Globally, Act Locally”. So, prepare yourself and grab the ticket. Ticket to global community. Siap berangkat!!!

1st Pic’s taken from Mas Surya’s private collection then edited by myself (cheers for me). Hehehe…Mas Surya, Mas Achmad, Mbak Ully, Mbak Pal, Mbak Kiki, Mbak Putri, Ko Rio, Mas Fahmi, Mas Tommy, Mas Adit, Mas Bowo. Aku minjem fotonya ya. Doain ketularan, bisa foto kayak gitu :)

2nd Foto pribadi. Taken by Devita Harya (tengkyu Vit). Location:Vredenburg, Yogyakarta.

3rd pic, koleksi IUP FEB UGM. Makasih Cha, fotonya.

source: http://charitsabaehaki.blogspot.com/2009/04/cmon-grab-ticket_4905.html