Dalam sebuah perbicangan masa sekolah dahulu, suatu kali diantara beberapa pilihan saya untuk pergi mengenal dunia dengan segala kemajemukannya, seorang sahabat pernah bertanya, “Apa alasanmu memasukkan Belanda ke dalam daftar negara yang patut dikunjungi selama hidup kita, memang apa keistimewaannya?”.

Sambil tersenyum saya menjawab, “Sederhana saja… karena Belanda memiliki fasilitas modern yang lengkap untuk menghargai keberadaan manusia seutuhnya”. Dan jawaban itu kemudian mengawali penjelasan panjang diantara kami tentang keinginan dan harapan saya untuk melabuhkan diri suatu saat kelak ke sebuah daratan yang dihuni sebuah bangsa besar yang nenek moyangnya pernah menjajah begitu lama di negeri ini.

Percakapan singkat itu –yang terjadi sekitar sepuluh tahun lalu ketika masa-masa sekolah dahulu –hingga kini masih berbekas di ingatan saya. Dan beruntungnya saya, meski tak pernah ada lagi percakapan semacam itu, secuil ingatan tentangnya masih tersimpan hingga kini. Tentang sebuah keinginan yang tak pernah terbayang apakah mungkin terwujud ataupun tidak, namun hati begitu bersemangat membicarakannya. Dan mengenang semua hal tersebut, saya mencoba berandai-andai dan menarik kembali benak ke masa itu, “Apa ya, dahulu alasan sebenarnya yang membuat Belanda begitu menarik hati ini sehingga layak menjadi sebuah negeri pilihan yang patut dikunjungi?”. Pikiran saya menerawang jauh, mengorek simpanan memori, melangkahi masa-masa sebelumnya, bahkan jauh sebelum percakapan diantara saya dan teman saya terjadi.

Perlahan saya mengumpulkan sisa-sisa ingatan dan mencoba menghubungkannya.

Hal pertama yang saya ingat dengan jelas adalah guru bahasa Inggris di sekolah menengah pertama yang membuat saya begitu tertariknya pada Belanda. Kali pertama ia bercerita tentang negeri yang tanahnya lebih rendah dari lautan ini adalah usai mengunjungi putrinya yang menetap di salah satu kota terbesar negeri kincir angin ini. Entah karena gaya penceritaannya yang menarik atau memang isi cerita yang jauh dari kehidupan yang dapat saya bayangkan saat itu, saya terhipnotis mendengarnya. Yang membuat saya, seorang ABG (Anak Baru Gede, istilah saat ini –red.) bak pecinta yang langsung jatuh hati pada pandangan pertama hingga berani berandai-andai untuk waktu cukup lama, “Apa yang akan saya lakukan kelak jika suatu saat memiliki kesempatan berlabuh di negerinya Vincent van Gogh ini?“

Saya sendiri lupa apa bayangan saya saat itu tentang Belanda. Hanya saja yang jelas, jika kini saya memiliki kesempatan berlabuh di Belanda pastilah mata dan perasaan ini silau dengan segala perbedaan yang ada dengan tanah kelahiran saya yang baru belajar demokrasi sesungguhnya. Di negeri yang menjunjung tinggi hak asasi manusia ini, segala kelebihan ragam fasilitasnya memberi kesempatan pada setiap orang untuk berkembang. Penegakkan hukum yang adil, kesempatan yang sama dalam pendidikan dan kesehatan, rendahnya kesenjangan sosial berdasar pada pendapatan masyarakat, juga fasilitas layanan publik adalah sedikit dari begitu banyaknya perbedaan yang saya ketahui.

Disamping itu, keterbukaan masyarakat Belanda pada dunia luar menjadikan ragam budaya dari berbagai penjuru dunia berbaur dan berbagi, berasimilasi dalam padu padan nan serasi yang membuatnya layak menjadi pilihan sebagai salah satu pintu masuk dan penilaian menuju kota-kota lain di Eropa. Belanda yang terbuka menerima siapapun yang datang dengan segala perbedaannya. Hangat dan terbuka. Suasana ini sangat berbeda dengan beberapa negeri lain yang berupaya ekslusif. Sementara Belanda menghargai segala perbedaan itu.

Lalu kemudian, jika impian itu benar-benar terwujud dan saya memiliki kesempatan berlabuh ke negeri “bendungan air” ini, satu impian yang ingin saya rasakan pertama kali di sana adalah merasakan naik kereta listrik. Dengan mengunjungi stasiun dan merasakan transportasi seluruh lapisan masyarakat ini beserta fasilitas layanan yang tersedia tentu akan menjadi awal yang baik untuk menilai kondisi masyarakat setempat. “Bagaimana ya rasanya naik kereta listrik di Belanda? Apakah sama rasanya seperti naik kereta jabotabek kelas ekonomi saat jalur padat yang membuat siapapun mandi keringat di dalamnya? Atau apakah saya akan di dekati calo karcis kereta saat terlihat bingung di stasiun? Atau mungkinkah saya jua menemukan pengamen, pengemis, pedagang kaki lima dan semacamnya di dalam kereta listrik di Belanda…?” Wah gak kebayang deh keinginan tuk merasakannya. Pasti seru!

Itu keinginan yang pertama. Keinginan saya yang lain adalah mengunjungi pusat-pusat budaya di berbagai kota di Belanda. Mulai dari yang tradisional sampai yang modern. Pertama saya akan memulainya dengan mengunjungi bangunan-bangunan tua yang ada, lalu ke museum dan situs bersejarah, dan dilanjutkan ke tempat masyarakat umumnya kongkow menghabiskan waktu luang. Hmmm.. pasti keren deh! Baik modern maupun klasik, tempat-tempat tersebut pasti memberik kesan tak terlupakan yang mungkin saya cari selama ini. Kota yang mengkombinasikan kultur tradisional dan modern dengan segala penghargaan keasliannya di tengah-tengah kehidupan masyrakat modern.

Dan selain tempat dan fasilitas umum, satuhal yang tak kalah penting adalah untuk bergaul bersama komunitas masyarakat intelektual di sana. Untuk belajar tentang banyak hal yang bermanfaat dan tentunya ngampus di negeri Ratu Beatrix ini tentu adalah sebuah pengalaman yang takkan terlupakan. Setidaknya saya akan merasakan bagaimana sih serba-serbi lingkungan akademik di Belanda, “Apakah cara mengajar dosen di sana lebih interaktif? Apakah para mahasiswanya tahu apa alasan mereka memilih suatu program studi kuliah? dan kalau boleh menebak, pastinya, lingkungan akademik di Belanda pastinya minus tawuran antar pelajar dan mahasiswa ya… Ah membayangkan semua itu rasanya hati jadi tak sabar tuk berangkat ke Belanda”.

Menuju ke sana, tiba melalui pelabuhan terbesar Eropa, Rotterdam, atau mendarat di Schiphol, salah satu bandara terbesar Eropa, baik datang maupun pergi melalui darat maupun laut tentu akan memberi pengalaman unik tersendiri. Dan jujur saja saya tak mampu membayangkannya kecuali menguatkan harapan diri semoga kelak langkah kaki ini dapat membekaskan tapak-tapak kaki di hamparan taman yang penuh dengan hamparan bunga tulip yang merekah indah. Mewujudkan sebuah mimpi menjadi bukti.

Belanda, negeri dimana angin berputar begitu kencang, laut bergelombang dengan dahsyatnya, dan iklim berotasi menjadi begitu dingin dan begitu panasnya, bagi saya adalah contoh positif dimana kehidupan dinamis masyarakat berbagi dengan alam dan segala isinya. Dan keadaan inilah yang membuat diri terus menguatkan keinginan tuk melihat dengan mata kepala sendiri kondisi kehidupan masyarakat terlindungi identitas perbedaan mereka dengan jaminan hak asasi sepenuhnya. Menerima kenyataan itu, tiba-tiba saja saya jadi kembali ingat sepenggal pertanyaan percakapan dengan teman saya dahulu, “Jadi kalau begitu untuk tahu, mengenal, dan mengerti semua perbedaan itu berarti kita harus pergi ke negeri kincir angin”.

Mengingat jawaban yang sama -yang dahulu perrnah saya beri padanya -rasanya masih relevan saat ini, “Secara realistis adalah memang tidak harus, tetapi sebagai seorang yang berharap melihat secara nyata sebuah perbandingan kehidupan masyarakat yang taat pada sistem yang berlaku dan penghargaan terhadap hak-hak manusia… saya kira tak ada salahnya! Kita belajar pada banyak hal secara langsung maupun tidak langsung, kita hidup berbagi dan menerima, kita mencoba saling memahami dan memperkenalkan diri dalam sebuah ikatan dengan bersilaturahmi. Dan bila kunjungan ke Belanda seperti sebuah silaturahmi untuk perbaikan diri, kenapa tidak?”

Teman yang mendengar jawaban itu tak melanjutkan pertanyaan keculai tersenyum dan mengangguk. Sayup-sayup terdengar pertanyaan dari dalam hati sendiri, “Kapan ya saya dapat berlabuh ke Belanda?”

Salam,

Hary Lasmana

Link artikel: http://hlasmana.dagdigdug.com/2009/04/25/berlabuh-ke-salah-satu-jantung-peradaban-modern-dunia/