“Belanda” sebuah negara asing yang sudah tidak asing lagi karena seringkali aku dengar, bahkan sejak masa kanak-kanak dulu. Bisa dipastikan kalau aku lebih dulu mengenal paling tidak tau nama Belanda sebagai negara nun jauh di sana daripada negara-negara lain di Eropa dan dunia pada umumnya. Warna bendera yang merah putih biru, orang-orangnya tinggi-tinggi dan sangar, roti keju, sampai gambaran kincir yang katanya banyak dijumpai di Belanda sehingga disebut negara Kincir Angin. Itu semua adalah sebagian cerita yang dulu sering aku dengar dari almarhum kakekku. Ya maklumlah, karena Belanda memiliki coretan historis yang begitu dalam pada Indonesia, mulai dari perdagangan, politik, pemerintahan, bahkan pendidikan.
Hal terakhir itulah yang ingin aku singgung “pendidikan”.
Tanpa sadar aku menjadi ingin tahu lebih banyak tentang Belanda ketika pada bulan Agustus 2006 saat masih di P2O-LIPI Jakarta, aku diajak untuk mendampingi 2 peneliti Belanda dari Naturalis yaitu Dr. Willem Renema (benthic foraminifer) dan Dr. Frank Wesselingh (fossil mollusca) untuk mengambil sampel sedimen dasar perairan Kepulauan Seribu. Sebagai peneliti junior, jelas aku antusias ingin belajar banyak dari mereka. Ternyata benar saja, cara kerja mereka bisa jadi mencerminkan kebiasaan yang ada di Belanda. Mister-mister itu disiplin banget, saling bantu satu sama lain, memberi pemahaman dan bimbingan tentang ini itu, begini begitu, dan tentu saja sesekali diselingi tawa. Meskipun capek minta ampun, tapi benar-benar sebuah kerja tim yang solid.
Dan kini aku di Ambon, lebih terasa lagi aroma Belanda. Aku banyak menjumpai orang Ambon yang keturunan opa-omanya Belanda. Selain itu budaya “meneliti” atau “rasa ingin tahu sesuatu” dari orang-orang Belanda jaman dulu sangat banyak ditemui di sini. Contohnya beberapa ekspedisi kelautan yang melibatkan peneliti-peneliti Belanda seperti Ekspedisi Rumphius I-IV (1973, 1975, 1977 dan 1980) dan Ekspedisi Snellius (1984-1985). Sampai saat inipun masih banyak pula dilakukan penelitian hayati oleh peneliti2 Belanda misalnya oleh tim Naturalis seperti diatas. Jelaslah bahwa budaya ilmiah sepertinya telah mendarah daging di dada para cendekia Belanda.
Bila ditilik pangkal ujungnya maka itu semua tak terlepas dari peran dan pola pendidikan yang ada di Belanda. Neso Indonesia menyatakan bahwa laporan Times Higher Education Supplemen mencatat hampir 90% universitas di Belanda berada dalam peringkat 200 universitas teratas. Ini adalah suatu bukti dan pengakuan dunia bahwa pendidikan di Belanda memang unggul. Kayaknya tidak ada alasan untuk menolak bila suatu saat nanti ada tawaran studi ke Belanda. Oh senangnya….
Faktor lain yang menjadikan Belanda sebagai pilihan untuk studi lanjut adalah suasana yang penuh keterbukaan. Bergaul dengan orang-orang seantero dunia, berdiskusi, kerjasama, dan aktivitas lain yang semuanya berjalan diatas dasar keterbukaan sungguh mengasyikkan. Membayangkan saja sudah terasa feel-nya apalagi terjun langsung ke dalamnya pasti tak terduga… Bisa diandai-andai saat kita berada di suatu komunitas yang notabene dilatarbelakangi oleh pendidikan modern penuh keterbukaan. Di satu sisi kita mungkin merasa ketinggalan dari segi modern-nya pendidikan, namun di sisi lain aku yakin hal itu dapat teratasi dengan keterbukaan masing-masing. Modernitas dan keterbukaan bisa diibaratkan dua sisi mata uang yang saling menyeimbangkan dan tak dapat dipisahkan.
Sempat ada ragu sampai sekarang. Terus terang aku seorang muslim, nama lengkapku saja Muhammad Masrur Islami, sangat kental ke-musliman-nya. Biasanya di negara-negara Eropa, isu teroris masih menjadi momok. Nah… inilah yang kadang bermasalah. Namun aku berpikir bila keterbukaan memang menjadi landasan kehidupan di Belanda, maka hal-hal semacam itu bukan sesuatu yang perlu ditakutkan lagi. Karena keterbukaan secara sadar akan membuahkan sikap saling menghormati dan itu dapat dikatakan sebagai salah satu ciri komunitas global (global community).
Keeratan historis, antusiasme, etos kerja yang tinggi, motivasi, kerjasama, budaya ilmiah, rasa ingin tahu, modernitas dan keterbukaan. Itulah kira-kira mozaik-mozaik yang perlu disusun mulai sekarang untuk menuju suatu jenjang pendidikan berorientasi pada komunitas global (ticket to a global community) yang penuh tantangan. Bercermin pada Belanda tentu saja…
Link: http://muhamaze.wordpress.com/2009/03/21/bercermin-pada-belanda/
