Tiga belas tahun yang lalu, ditrotoar Malioboro. Saat itu tepatnya usiaku 14 tahun. Siang itu dihari jumat, bulan juni, seusai sekolah, aku dan teman temanku berjalan menuju di macdonal. Biasalah tahun 1995, Mcdonal adalah trend baru dikalangan anak-anak SMP di Yogyakarta. Pokoknya sasaran buat tebar pesona bagi para gadis remaja. Apalagi hari jumat kami pulang lebih cepat, dengan masih mengenakan baju coklat dan tas punggung berisikan buku-buku kami berlari menuju Macdonal dari halte Malioboro.
Mengenangnya, membuatku kesal dan ogah pulang ke masa itu. Rambutku saat itu masih keriting. Bahkan menjadi bahan ejekan teman temanku. Sudah sering aku meminta ibuku untuk direbonding, tapi tanggapan ibuku, hanya sebatas rengekan anak kecil. Kami adalah ibu dan anak yang selalu berbeda pendapat, bahkan sampai hari ini. Ibuku sayang, selalu berorientasi ekonomi. Kalau aku meminta sepeda mini berwarna pink, maka ibuku akan membelikanku sepeda jengki bermerek RRC untuk kesekolah. “Karena jengki purna jualnya bagus” kata beliau. Layaknya gadis ABG, aku suka baju-baju perempuan feminin, lucu lucu dan imut, seperti teman teman sekolahku. Tapi ibuku lebih rajin membelikan baju kemeja laki laki dengan ukuran M ketimbang rok untukku. Karena dua saudaraku adalah laki laki. Jadi kami bisa tukaran baju. Tak kuasa sebagai anak, akupun menurut, sekalipun memendam jengkel. Maklum ibuku adalah pedagang, dan ayahku pns. Tapi aku selalu yakin, kelak aku harus bisa membeli baju impianku dengan uang kerjaku. Juga sepeda mini. Peristiwa itulah yang memacuku selalu ingin mempercepat waktuku menjadi anak kuliahan, supaya bisa lekas bekerja.
Malioboro
Gom-gom, erna, dewi dan yuliana, adalah sahabat karibku. AKu bahkan mengenal gom-gom semenjak kami dibangku Sekolah Dasar. Kami berempat, memang kerap kali menyusuri Malioboro sekedar untuk menghabiskan waktu, dan mempererat persahabatan kami. Bus jalur 4, yang setia membawa kami ke malioboro.
Siang itu, kami merasa dewi fortune hinggap diatas kami. Bahkan aku tidak pernah menyangka bahwa hari itu membawaku kesebuah pertemuan, yang akan mengawali 14 tahun persahabatanku dengan dua keluarga Belanda bahkan awal dari perjalananku ke Belanda. Layaknya kisah slumdog millionare, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.
Van Pruijssen
Seorang laki-laki tegap, tinggi dan brewok tersenyum kearah kami, ketika kami tengah menyusuri jalan pulang dari Malioboro. AKu ngeri melihat posturnya, sangat tinggi untuk ukuran orang Indonesia, hampir 2 meter. Mungkin jika aku bawa kedesaku, semua orang akan mengkerumuninya.
Kami terhenti ketika gadis kecilnya menjawab sapaan kami.”Lieke van pruijssen” jawabnya saat kami bertanya namanya. Ayahnya bernama Joop van pruijssen. Itu adalah kali pertamanya mereka datang dari negeri kincir angin untuk berlibur ke Jogja dan Bali. Bersama istrinya Angki, dan kedua anak perempuannya Susanne yang pertama dan Lieke sibungsu yang saat itu berusia 10 tahun.
Nama yang terlalu susah untuk diucapkan lidahku. Nama kamipun sama susahnya untuk lidah mereka. CUkup lama kami berdiri, disamping macdonal, berusaha membuka percakapan dengan bahasa inggris sederhana. Sesaat dahiku ikut berkerut memikirkan kata yang akan terucap. Mengingat-ingat barisan kata yang sudah aku hapalkan dari kamus. Jejeran kata demi kata aku susun untuk menanyakan maukah mereka menjadi sahabat kami.”We will send you letters” kata kami.
Kemudian kami tukar menukar alamat dengan Bahasa Inggris ala kadarnya, maklum kami hanya belajar selama empat jam seminggu disekolah. Itupun hanya disekolah, tidak ada biaya untuk kursus diluar. Makanya, kami pikir lumayan, kami dapat kesempatan langsung praktek ngomong Inggris dengan bule asli.
Koresponden
Pertemuan cukup singkat, namun membawaku dalam persahabatan yang tidak pernah usang. Tahun demi tahun, kami terus menerus mengirim surat lewat pos. Mereka mengirimi kami banyak sekali surat, bahkan tidak jarang, ibu mereka, Angki, menyertakan boneka boneka kecil dan pensil-pensil lucu. Lebih bisa dibilang, Angki yang sering mengirimi kami surat. Mungkin karena saat itu Lieke masih kecil dan Bahasa Inggrisnya kurang.
Sampai akhirnya aku putus hubungan dengan gom-gom, erna, dewi, dan yuliana selepas lulus SMP. AKu tidak tahu bagaimana kabar mereka. Namun hubunganku dengan keluarga Van Pruijssen terus berlanjut, dengan surat menyurat, bahkan email. Beberapa kali mereka mengunjungiku ke Indonesia, bahkan membawa keluarga mereka yang lain, Balvers. Mereka juga menyempatkan mendatangi rumahku di Bantul, dan berkenalan dengan ayah, ibu, dan kedua saudara laki lakiku. Bahkan, teman teman mereka juga datang bergantian kerumah kami. Maklum, rumah kami di pedesaan dan sangat akhrab dengan suasana sawah dan andong. Tidak segan segan mereka menginap dirumah kami. Ibuku selalu membuka pintu rumah kami untuk mereka, dan senantiasa menyiapkan “jangan” dimeja makan. Apalagi, mereka sangat membantu menambah kemampuan bahasa inggrisku dan adikku.
Belanda
Saat usiaku menginjak 21 tahun, aku mendapat kejutan dari Joop. Aku bersorak girang, saat adikku menyampaikan kabar bahwa Joop akan mengundang kami kerumahnya. Bayangkan anak pns daerah bisa melancong ke negeri belanda. Hal yang tak mungkin, menjadi mungkin.
Setelah beberapa tahun kami menjalin komunikasi, Joop dan adikku memiliki hubungan khusus. Seperti layaknya ayah angkat dan anak laki -lakinya. Bukan hanya dia, aku juga memiliki sahabat istimewa. Namanya Clemy Balvers, dia anak perempuan keluarga Balvers. Kami bisa mengobrol dari sore sampai pagi dan kembali sore lagi. Entah apa yang kami bicarakan, tetapi itulah kami. Merasa satu hati, dan saling memahami sebagai sahabat. Banyak yang telah kami hadapi berdua, sebutlah peristiwa gempa jogja tahun 2006 mengambil ayahku, kangker merenggut ibunya tahun 2008, dan usia menjemput opanya dan kedua kakek nenekku.
Foto yang menjadi saksi bahwa aku pernah dekat dengan mamanya, dan ia pun menjadi satu-satunya bule kesayangan ayahku. Tiga belas tahun, tidak pernah kami lewatkan dengan satu pertengkaran.
Kaatsheuvel
Perjalananku dan adikku melancong ke Belanda akhirnya datang juga. Mereka mengundang kami berdua. “Selamat datang di negara multiculture” kata adikku. Ia memang banyak membaca dan mempelajari, negara itu sebelum kunjungan kami. Ia bahkan bercerita kepadaku dalam 20 jam penerbangan kami ke Belanda, bagaimana beragamnya warga Belanda, dan bagaimana mereka memiliki toleransi beragama cukup tinggi, sekalipun tidak memiliki lambang garuda. Kuatnya toleransi di negara Liberal.
Aku tinggal di desa Kaatsheuvel. Desa yang sangat sepi. Namun istimewa, karena desa itu memiliki Affteling, Dufan terbesar didaratan Belanda. Dan sudah hukum wajib bagi semua orang Belanda untuk singgah ke Affteling.
Pengalaman yang tidak pernah aku lupakan dalam hidupku. Karena banyaknya yang aku pelajari dari negara asal tulip ini. Aku berkunjung ke banyak tempat, Nijmegen, Rotterdam, Maastrich, Den Haag, Tilburg, Volundam, Amsterdam, Walwijk, Madurodam, Breda, bahkan Joop mengajak kami, sehari berlayar dengan kapal milik saudaranya.
Aku jadi tahu bagaimana orang Belanda hidup berdampingan, masing-masing dari mereka adalah pribadi mandiri. Tidak ada pembantu, bahkan laki lakipun mencuci piring dan pakaian mereka. Bukan hanya ibu rumahtangga, tetapi juga bapak rumah tangga. Para murid sekolah punya kebiasaaan yang unik saat kelulusan, mereka mengibarkan bendera dijendela dengan menggantung buku dan tas sekolah mereka. Aku jadi ingat, bahwa itu tidak ada dinegaraku. Bendera bukan menjadi hal hal yang bersifat personal. Mungkin kaitannya hanya upaca bendera dan kegiatan sekolah saja.
Di Tilburg, mereka ada festival Tilburg. Luar biasa meriah. Ada banyak negara hadir disini. Berbagai budaya mereka membuat stand untuk tiap tiap negara. Sangat unik, karena banyak panggung dan banyak ragam negara yang hadir. Tiap tiap negara memiliki panggung sendiri, jadi mereka memiliki kesempatan untuk menampilkan kebudayaan mereka masing masing, dari tarian sampai lagu lagu.
Dan di Den Haag, aku mengobati kerinduanku dengan mendatangi Pasar Malam besar. Yang ini juga tidak kalah meriah, hanya saja disini, mereka yang datang kebanyak orang indonesia, Suriname dan orang orang indo. Karena hampir semua yang ada disini adalah makanan dan barang-barang khas Indonesia. Bahkan sampai penjualnya pun orang Indonesia. Sayang, sewaktu aku berkunjung, tidak ada yang spesial, padahal itu bisa menjadi bagian promosi pariwisata kita di Eropa dan Belanda khususnya.
Di Breda, aku bernasib sedikit buruk. Aku melihat seorang Afrika berkulit hitam, karena warna kulitnya yang legam dan warna bajunya hijau kukus yang sangat kontras, membuatku kehilangan kontrol. “Lucu tuh”ujarku. Komentarku dibalas berang oleh adikku, “Jangan suka ngomongin orang”bentak adikku. AKu cuek menanggapiinya, karena merasa tidak ada orang yang mengerti pembicaraan kami dalam Bahasa Jawa campur Indonesia, apalagi di negeri orang. Tapi siapa menyangka bahwa pemuda Afrika tadi menoleh kearah kami,”Orang Indonesia ya?”sahutnya, Spontan aku shock mendengarnya, bukan aku saja, bahkan adikku dan Janny teman kami dari Belanda.
“Saya empat tahun sekolah bahasa di UGM Yogyakarta dan tinggal di jalan Hayamwuruk dekat geronimo”jelasnya ketika kami bertanya soal kefasihannya berbicara Bahasa Indonesia.
Sekolah Ke Belanda
Setelah selesai menempuh S1, aku dan adikku memang berkeinginan melanjutkan S2 ke Belanda. Bukan saja karena bergengsi, tapi juga banyaknya saudara yang kami miliki di negeri itu. Saudara yang terjalin bukan karena darah, tetapi karena komunikasi dan saling memahami. Dan itu akan memudahkan kami untuk cepat beradaptasi.
Dan karena kita sudah punya bukti bahwa banyak orang kita lulusan Universitas Belanda menjadi pejabat dan sukses. Tengoklah di jajaran pejabat PU, ada ratusan dari mereka lulusan Universitas IHE-Delft. Bahkan deretan menteri PU juga dicetak dari IHE-Delft, begitu juga Djoko Kirmanto, menteri PU periode sekarang.
Tidak hanya itu, metode pembelajaran yang diajarkan di Negara Belanda juga menggunakan Problem Base Learning yang mengajak mahasiswa dari berbagai negara saling bekerja sama dalam menyelesaikan suatu permasalahan sehingga mahasiswa dapat saling bertukar informasi dan bekerja sama dengan mahasiswa dari multi negara dan tidak mengarah pada classroom. Kenyataan lainnya, riset ilmiah internasional Belanda menjadi yang terdepan di Eropa. Belanda menduduki peringkat ke-lima di dunia untuk jumlah jurnal-jurnal per kapita. Menurut surabaya.net, 8 dari 9 Universitas Belanda yang masuk dalam daftar 200 peringkat World University Ranking 2008 versi majalah Times dan kemarin ikut serta dalam HEF 2008.
Bahkan menurut wikipedia, Program for International Student Assessment,yang dikoordinasikan oleh OECD, menduduki peringkat pendidikan di Belanda sebagai 9. Bahkan terbaik di dunia pada 2008, yang secara signifikan lebih tinggi daripada OECD rata-rata.
Akupun berharap mendapat kan kesempatan menempuh pendidikan S2 di Belanda. Bukan sekedar menjadi orang sukses yang terlintas dikepalaku. Tapi mendapatkan kesempatan belajar di Belanda, dan mengambil S2 komunikasi di Universitas the HAGUE, merupakan pintu gerbang meraih karirku. Mampu menggengam kesempatan itu, sama artinya aku mendekati kesuksesanku. Saat ini aku sedang membangun jalan kearah menempuh pendidikan di Belanda.
Dan aku yakin, bukan hanya ilmu yang akan aku dapat, namun juga network.Network dengan level dunia. Yang kelak akan membantuku mengejar karirku dibidang komunikasi di Indonesia. Saat ini aku bekerja sebagai CPR dikonsultan air Indonesia, dan banyak dibutuhkan ahli ahli komunikasi yang mampu berkomunikasi dengan publik, maupun pemerintah. Untuk membantu menanggulangi resiko maupun krisis komunikasi.
Mendapat kesempatan sekolah diBelanda bagiku tak ubahnya memegang tiket untuk kesuksesan karirku saat ini dan masa depanku.
Sources :
http://sandiwara.blog.friendster.com/2009/03/belanda-is-multicultural-country-banyak-teman-banyak-rejeki/
http://nesoindonesia.com
http://www.suarasurabaya.net/v05/kelanakota/?id=8080c71ff0703aa54338eeaec09f9c82200858390
