<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Kompetisi Blog &#124; Studi di Belanda</title>
	<atom:link href="http://kompetiblog.studidibelanda.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kompetiblog.studidibelanda.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 11:50:04 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Inilah Wajah Pemenang Studi di Belanda Blog Competition</title>
		<link>http://kompetiblog.studidibelanda.com/news/inilah-wajah-pemenang-studi-di-belanda-blog-competition.html</link>
		<comments>http://kompetiblog.studidibelanda.com/news/inilah-wajah-pemenang-studi-di-belanda-blog-competition.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 11:22:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin3</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[Kompetiblog]]></category>

		<category><![CDATA[Studi di Belanda]]></category>

		<category><![CDATA[Utrecht Summer Course]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kompetiblog.studidibelanda.com/?p=2608</guid>
		<description><![CDATA[Rabu Siang (01/07) kantor Neso Indonesia kedatangan 6 pemenang kompetisi blog Studi di Belanda. Wajah-wajah mereka tampak cerah terutama Dian dan Ratna, pemenang pertama yang memperoleh kesempatan untuk merasakan langsung menjadi mahasiswa internasional di Belanda. Ratna Ariyanti adalah seorang wartawan yang telah bergabung lebih dari 5 tahun dengan koran Bisnis Indonesia.  Sedangkan Dian Inawati, seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-2612" title="img_00553" src="http://kompetiblog.studidibelanda.com/wp-content/uploads/2009/07/img_00553-300x225.jpg" alt="img_00553" width="300" height="225" />Rabu Siang (01/07) kantor Neso Indonesia kedatangan 6 pemenang kompetisi blog Studi di Belanda. Wajah-wajah mereka tampak cerah terutama <a href="http://alamanda.blogspot.com/">Dian</a> dan <a href="http://www.negeri-senja.com/">Ratna</a>, pemenang pertama yang memperoleh kesempatan untuk merasakan langsung menjadi mahasiswa internasional di Belanda. Ratna Ariyanti adalah seorang wartawan yang telah bergabung lebih dari 5 tahun dengan koran Bisnis Indonesia.  Sedangkan Dian Inawati, seorang Manajer sebuah Galeri Seni terkemuka di Ubud, datang jauh-jauh dari Bali dengan harapan tinggi.</p>
<p>Lain Dian dan Ratna, lain pula dengan para pemenang kedua dan ketiga. <a href="http://tonosuhartono.wordpress.com/2009/04/30/demi-nuffi-van-holland/">Suhartono</a> misalnya, seorang wartawan Jurnal Nasional yang terinspirasi akan kerinduannya pada seseorang yang tengah menyelesaikan program PhD di TU Eindhoven. Atau <a href="http://puputpunyacerita.blogspot.com/2009/04/jangan-studi-di-belanda.html">Putri Trapsiloningrum</a> yang mengangkat tema tentang kekhawatiran orang tua yang mengirimkan anaknya untuk studi di luar negeri.  Lalu ada <a href="http://rizamelia.multiply.com/journal/item/14/Sekampus_Dengan_Ratu_Belanda_-Sebuah_Pengalaman_Mahasiswi_Indonesia_di_Belanda-">Rizky Amelia</a> seorang wartawan Koran Jakarta yang juga lulusan Sastra Belanda, mengusung tema bagaimana rasanya berkuliah di kampusnya Ratu Belanda. Termasuk seorang pakar Public Relation seperti <a href="http://beradadisini.wordpress.com/2009/04/14/kompetiblog/">Hanny Kusumawati</a> pun punya harapan untuk bisa merasakan Studi di Belanda terinspirasi dari sebuah film Belanda yang dirilis tahun 1995, Antonia Line.</p>
<p>Pertemuan yang berlangsung sangat informal ini diawali dengan pemutaran film tentang Studi di Belanda. Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan perbincangan ringan tentang pengalaman para peserta dalam mengikuti kompetisi blog Studi di Belanda termasuk proses membangun ide menjadi sebuah tulisan yang mengantarkan mereka menjadi pemenang. Dalam kesempatan tersebut, Marrik Bellen, Direktur <a href="http://neso.nuffic.nl/indonesia/home">Neso Indonesia</a> memberikan ucapan selamat kepada para pemenang  dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para blogger yang telah berpartisipasi .  Marrik juga mengungkapkan, pelaksanaan kompetisi blog Studi di Belanda diharapkan bisa meningkatkan awareness tentang  lebih dari 1400 program studi berbahasa Inggris yang ditawarkan oleh universitas di Belanda.</p>
<p>Penyerahan hadiah ini juga dihadiri oleh salah satu perwakilan juri, Enda Nasution. Enda mengungkapkan, kompetisi blog Studi di Belanda adalah sebuah kompetisi yang sangat sukses karena berhasil menarik minat lebih dari 500 orang blogger untuk mendaftar.</p>
<p>Setelah ini, kita semua bisa mengikuti perjalanan para pemenang di Belanda dalam blognya <a href="http://alamanda.blogspot.com/">Dian</a> and <a href="http://www.negeri-senja.com/">Ratna</a> yang akan menceritakan pengalamannya mengikuti Summer Course di Utrecht setiap harinya.</p>
<p>Neso Indonesia juga mengucapkan selamat untuk para pemenang, semoga suatu saat kita bisa berjumpa di Belanda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kompetiblog.studidibelanda.com/news/inilah-wajah-pemenang-studi-di-belanda-blog-competition.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dan pemenang kompetiblog adalah&#8230;</title>
		<link>http://kompetiblog.studidibelanda.com/news/dan-pemenang-kompetiblog-adalah.html</link>
		<comments>http://kompetiblog.studidibelanda.com/news/dan-pemenang-kompetiblog-adalah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 06:04:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin3</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[Kompetiblog]]></category>

		<category><![CDATA[Pengumuman Kompetiblog]]></category>

		<category><![CDATA[Studi di Belanda]]></category>

		<category><![CDATA[study in holland]]></category>

		<category><![CDATA[Summer Course Utrecht]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kompetiblog.studidibelanda.com/?p=2604</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya panitia ingin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas partisipasi dan perhatian yang diberikan oleh seluruh teman-teman blogger terhadap Kompetiblog Studi di Belanda kali ini, terutama pada saat penantian siapakah yang berhasil menjadi pemenangnya.
Tim juri yang terdiri dari Wicak Ndoro Kakung, Enda Nasution dan Raditya Dika telah bekerja ekstra keras untuk dapat melakukan penilaian terhadap total [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya panitia ingin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas partisipasi dan perhatian yang diberikan oleh seluruh teman-teman blogger terhadap Kompetiblog Studi di Belanda kali ini, terutama pada saat penantian siapakah yang berhasil menjadi pemenangnya.</p>
<p>Tim juri yang terdiri dari <a href="http://ndorokakung.com/">Wicak Ndoro Kakung</a>, <a href="http://enda.goblogmedia.com/">Enda Nasution</a> dan <a href="http://radityadika.com/">Raditya Dika</a> telah bekerja ekstra keras untuk dapat melakukan penilaian terhadap total 316 posting untuk semua kategori yang masuk ke panitia kompetiblog.  Dari 316 total posting yang terjaring, akhirnya tim juri sepakat untuk memilih 3 blog terbaik untuk masing-masing kategori.</p>
<p>Masing-masing pemenang nantinya akan dihubungi oleh pihak panitia melalui email untuk pemberitahuan resminya dan pemberian hadiah akan dilakukan di kantor Neso Indonesia untuk waktu yang akan ditentukan kemudian.</p>
<p>Dan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>saat yang dinanti-nantikan akhirnya tiba&#8230;.</p>
<p>inilah 2 blogger yang beruntung mendapatkan hadiah<a href="http://www.utrechtsummerschool.nl/"> Summer Course</a> ke Belanda, sebagai pemenang pertama Kompetiblog Studi di Belanda:</p>
<p>Kategori Wartawan: <strong>Ratna Ariyani</strong> (Bisnis Indonesia) untuk posting yang berjudul <a href="http://www.negeri-senja.com/archives/2009/04/bergerak-menuju-holland/">Bergerak Menuju Holland</a>.</p>
<p>Kategori Umum: <strong>Dian Inawati</strong> untuk posting yang berjudul <a href="http://alamanda.blogspot.com/2009/04/pak-janggut-dan-komunitas-global.html">Pak Janggut dan Komunitas Global</a></p>
<p>Sedangkan, untuk juara ke-2 dan ke-3 untuk masing-masing kategori adalah sebagai berikut:</p>
<p>Kategori Wartawan:</p>
<p>Juara 2:  <strong>Suhartono </strong>(Jurnal Nasional) dalam tulisan yang berjudul <a href="http://tonosuhartono.wordpress.com/2009/04/30/demi-nuffi-van-holland/">Demi Nuffi van Holland</a></p>
<p>Juara 3: <strong>Rizky Amelia</strong> (Koran Jakarta) dalam tulisan yang berjudul <a href="http://rizamelia.multiply.com/journal/item/14/Sekampus_Dengan_Ratu_Belanda_-Sebuah_Pengalaman_Mahasiswi_Indonesia_di_Belanda-">Sekampus dengan Ratu Belanda, Sebuah Pengalaman Mahasiswi Indonesia di Belanda</a></p>
<p>Kategori Umum:</p>
<p>Juara 2: <strong>Hanny Kusumawati</strong> dalam tulisan yang berjudul <a href="http://beradadisini.wordpress.com/2009/04/14/kompetiblog/">Belajar Berbeda di Belanda</a></p>
<p>Juara 3: <strong>Putri Trapsiloningrum</strong> dalam tulisan yang berjudul <a href="http://puputpunyacerita.blogspot.com/2009/04/jangan-studi-di-belanda.html">Jangan Studi di Belanda</a></p>
<p>Pemenang ke-2 akan mendapatkan hadiah notebook  sedangkan pemenang ke-3 akan mendapatkan hadiah kamera digital.</p>
<p><em>Selamat kepada para pemenang! </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kompetiblog.studidibelanda.com/news/dan-pemenang-kompetiblog-adalah.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sir, Your ticket please….</title>
		<link>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/sir-your-ticket-please%e2%80%a6.html</link>
		<comments>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/sir-your-ticket-please%e2%80%a6.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 09:29:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fajrin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>

		<category><![CDATA[kompetiblog studi di belanda]]></category>

		<category><![CDATA[Netherland]]></category>

		<category><![CDATA[summer school]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kompetiblog.studidibelanda.com/?p=1699</guid>
		<description><![CDATA[
It was 7 AM and I AM LATE.  I usually took the 7.30 train and it was 7 AM when I woke up. There is only 30 minutes to go for praying subuh (Praying at 7 AM??? God forgive me for this one), take a shower, preparing my stuff that places everywhere and breakfast. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HfyZbatAXGQ/SfGrENZmbUI/AAAAAAAAAYU/6EymXWSpQmg/s320/dreaming+Holland.jpg" border="0" alt="" /></p>
<div>It was 7 AM and I AM LATE.  I usually took the 7.30 train and it was 7 AM when I woke up. There is only 30 minutes to go for praying subuh (Praying at 7 AM??? God forgive me for this one), take a shower, preparing my stuff that places everywhere and breakfast. Life is all about choosing one thing and leaving another. So I leave my breakfast as a trade off for other things. Preparing the stuff and get dressed with messy suit. Don’t ask me about shower. But I do wash my face and brush my teeth (honestly). The two most important things, I guess. I said leaving to my mom then run for the train. My house is about 15 minutes walking from a train station or 5 minutes running. Thank god the train arrived late so I could take my time for breath. I should arrive at 8.00 AM to prepare some report. I pray my boss will be late too.</div>
<div></div>
<div>Lucky me, the train was empty then I took my time to find a nice position. I got my seat and then tried to continue my fastidious dreams that have taken by the alarm this morning. I am heavy-eyed and cannot hold this. My mind come fade away. I fall asleep while thinking about an email from Erasmus Rotterdam informed me about study programme for master degree. About 6 months ago I went for an education expo and I put my email address in their guess book. Hoping to get some information about their study programme. Then they sent me the information. The question then is not about whether I am interested about the programme but whether I can afford for it or not. This question drives me to search information about scholarship to study in Netherland. Hence I spend the whole night googling for scholarships. Then I fall asleep in the train. Sleep like a baby in his folding bed.</div>
<div>
<blockquote><p><em>Suddenly a noisy sounds wake me up. I thought that it was an alarm. But it was not. It was a bell ringing from some place notifying arrival and the officer shakes my shoulder. Sir, your ticket please. “Uhh.. Where am I?” Suddenly I see stranger around me. None of them are Asian. Wait I am the stranger here not them. Am I dreaming? “its Amstel Sir” said the officer. Am I dreaming? I look ahead and I saw Amsterdam Central Station.</em></p>
<p><em>I leave the train station to a city hall. And I see Dam Square the city central square. And there is a lot of store there from antique stuff store to a Koffie shop where you can smell the space cake &amp; mushroom. I look around to find something to eat. But how can..? I can’t even speak Dutch. Hmm..but wait a minute Holland is the place where most of the people are speaking English aren’t they? Lucky me.  I am in the middle of the global community. No need to be worried how to ask where  the restaurant is.</em></p>
<p><em>I take my step to the street. I look around to talk to somebody and I met this foreign student who looks calm and nice. We talk in English. Her name is Olga Muravjova, Lithuanian and she took BA in Liberal Arts, at Utrecht. I took  the chance for asking about  her experience in studying in Netherland. She said that the first time she knew about University College Utrecht was when she came to visit her brother who was also studying here several years ago. She decided to study at UC because it offers a perfect combination of quality education and gives an opportunity to combine several disciplines.</em></p>
<p><em>After having a nice  conversation with Olga I prefer to have some travel in this flat country. I went to Aalsmeer, to see the largest flower auction of the world. Daily, said one of the seller, over 45 million of flowers and plants are sold here. What a big market. Then after windows shopping for flowers, I took a train to visit the beautiful medieval city Delft, to visit a delftware factory. From Deft I went to the international port Rotterdam. It used to be the largest port of the world. Although it isn’t anymore, it is still extremely impressive to see how ships as large as a block of flats call in at this international port and imagining how VOC start their international trade here.</em></p>
<p><em>From Rotterdam I went to The Hague by train to visit the Royal Palace Noordeinde, the Vredespaleis (Peace Palace). Of course, I will not skip Madurodam, the smallest city of the Netherlands, in this Grand Holland Tour. In Madurodam they have precisely copied a part of Holland on a scale of 1:25. A kind of Taman Mini Indonesia Indah, but in small scale. I can touch the top of The Dutch Parliament, Schiphol, the Rotterdam harbor, the Amsterdam canals, the mills of Kinderdijk, and it was a great experience. Feels like Giants walking around  the Netherland. I met my college mate here. She went to VU Amsterdam for her Master degree. We talks about an opportunity for getting scholarships and she said that no need to be worry of that. That’s a plenty of scholarships offered by Stuned, Huygens and a lot more.</em></p>
<p><em>After long travel through Holland I feel like that I just had travel around the world. Holland is a global village where people from all around the round are interacting. No need to go around the world (a song by Gita Gutawa &#8220;Tak Perlu Keliling Dunia&#8221;). I don’t need to go around the world to sense the global community if I could study here. </em><strong><em>A ticket to global community is here at the Netherland.</em></strong></p></blockquote>
<p>Ticket…ticket…ticket. “Sir, your ticket please….”. I suddenly woke up and back here in the train when an officer is asking a ticket. “Gosh. Am I dreaming???. Yes You are I guess”, said the train officer.</p>
<p class="MsoNormal"><em>Sources:</em></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.hollandtourguides.com/locations/rotterdam"><em>http://www.hollandtourguides.com/locations/rotterdam</em></a></p>
<p class="MsoNormal"><em>foto taken from private collection &amp; maps (neso CD ROM)</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Link to my blog:</em></p>
<p class="MsoNormal"><em><a href="http://mind-flow.blogspot.com/2009/04/from-neverland-to-netherlands-dream-to.html">http://mind-flow.blogspot.com/2009/04/from-neverland-to-netherlands-dream-to.html</a><br />
</em></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/sir-your-ticket-please%e2%80%a6.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jiwa Jingga</title>
		<link>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/jiwa-jingga.html</link>
		<comments>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/jiwa-jingga.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 09:27:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nadya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>

		<category><![CDATA[Kompetiblog]]></category>

		<category><![CDATA[Studi di Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kompetiblog.studidibelanda.com/?p=2447</guid>
		<description><![CDATA[Negeri mungil berjiwa jingga, apa yang tak bisa dilakukannya? Berlokasi di tanah rendah rawan banjir pemberian alam raya, kincir angin dimaksimalkan untuk mengatasinya. Kedinginan di negeri sendiri, kapal layar diberangkatkan untuk mencari rempah-rempah di negeri yang jauh. Bahkan, bisa dilihat sekarang ini, dalam semangat perkembangan zaman yang &#8220;makin cyber aja&#8221;, diselenggarakannya Kompetiblog, mengundang partisipasi blogger [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Negeri mungil berjiwa jingga, apa yang tak bisa dilakukannya? Berlokasi di tanah rendah rawan banjir pemberian alam raya, kincir angin dimaksimalkan untuk mengatasinya. Kedinginan di negeri sendiri, kapal layar diberangkatkan untuk mencari rempah-rempah di negeri yang jauh. Bahkan, bisa dilihat sekarang ini, dalam semangat perkembangan zaman yang &#8220;makin cyber aja&#8221;, diselenggarakannya Kompetiblog, mengundang partisipasi blogger dalam kompetisi blog dengan hadiah utama yang memikat: summer course di salah satu universitas terbaik di negaranya! Siapa yang tidak ingin? (Saya sih pengen banget &#8230; <img src='http://kompetiblog.studidibelanda.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> ). Negara lain, mana ada yang bikin kompetisi macam beginian, coba?<br />
***</p>
<div>
<blockquote><p><em>&#8220;Tempat ini ialah tempat paling jauh dari Sorga yang hilang,<br />
Sama sekali terselubung dalam damai yang kehilangan terang.<br />
&#8230;.<br />
Mereka dambakan di daerah yang belum terjamah<br />
Suatu tempat istirah di luasan kosong yang resah.&#8221;</em><br />
Penemuan Hebrida Baru - Jan Jacob Slauerhoff, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dewan Kesenian Jakarta, Bank Naskah Dewan Kesenian Jakarta, 1976</p></blockquote>
<p>Dari sajak di atas, saya merasakan pergulatan Slauerhoff, sang penyair Belanda sekaligus pelaut, yang senantiasa merasakan gejolak ingin berlayar, berlayar, dan berlayar. Elemen yang memantik gejolak dalam jiwanya ini terdiri dari dua hal. Pertama, kepedihan di negeri sendiri, yang disebutnya sebagai &#8220;tempat paling jauh dari Sorga yang hilang&#8221;, serta &#8220;terselubung dalam damai yang kehilangan terang&#8221;, yang seolah makin menegaskan pemberontakannya terhadap alur kehidupan yang stagnan. Jiwa gelisah ingin melaut, dinyalakan oleh kerinduan terhadap suatu tempat yang baru, yang &#8220;belum terjamah&#8221;. Ia selalu mengikuti panggilan semangat dalam dirinya untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih sesuai dengan kemauannya, untuk menemukan &#8220;tempat istirah di luasan kosong yang resah&#8221;, untuk memuaskan spirit yang tak pernah padam meski sering dikecewakan &#8230; oleh berbagai tempat yang tak sesuai dengan harapan. Dan, sampai akhir hayatnya, ia tak menyerah &#8230; meski tak kunjung menemukan tempat yang dimaksudkan &#8230;.</p>
<p>Semangat yang sama dengan si pengelana Slauerhoff itulah yang menurut saya sedang ditularkan kepada para blogger Indonesia melalui Kompetiblog ini. Semangat untuk memiliki angan-angan dan memperjuangkannya tanpa menyerah, meski belum tahu akan seperti apa hasilnya. Semangat untuk melihat dunia luas. Bahkan, semangat untuk, paling tidak, memikirkan konsep global community yang menjadi tema kompetisi ini, supaya tidak cuma jadi jago kandang atau katak dalam tempurung &#8230; <img src='http://kompetiblog.studidibelanda.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>Global community</em>, mungkin memang tak hanya bisa dimasuki melalui studi di Belanda. Itu bukan satu-satunya jalan. Sebagian orang-orang Indonesia yang memilih studi di negara-negara yang lebih dekat seperti Australia, Singapura,  Malaysia, atau negara-negara Eropa lain seperti Inggris. Namun, satu hal yang menurut saya penting dalam memilih tempat studi adalah mencoba &#8220;mengintip&#8221; karakteristik negara tempat studi tersebut, tak hanya memilih universitas saja. Sebab, studi di manapun berarti: tidak hanya belajar matriks-matriks kuliah dan silabus di dalam kelas/universitas saja, melainkan juga menjalani hidup dan belajar dari alam kejiwaan, alam pikiran, budaya masyarakat yang berbeda dan suasana  (<em>ambience</em>) tempat baru yang notabene bukan kampung halaman kita tersebut. Toh, pada intinya, kita menginginkan tempat terbaik untuk mengembangkan potensi diri, tak hanya secara akademik tapi juga dalam perkembangan kemanusiaan kita. Nah, di sini saya akan berbagi poin-poin keunikan Belanda yang menjadikannya negara yang <em>global community</em> banget.</p>
<p>Pertama, bagi saya, Belanda sangat cocok dengan warna jingga yang menjadi identitasnya. Sepertinya Belanda sangat nge-<em>soul</em> dengan karakter warna jingga yang mencolok atau bisa dikatakan nyentrik, seakan-akan Belanda bagaikan <em>lady rocker</em> karismatik yang tak takut mengemukakan seperti apa jati dirinya dan menyuarakan seperti apa isi lubuk hatinya. Bagi saya, Belanda berspirit &#8220;penuh kemungkinan&#8221; dan &#8220;humanis&#8221;. Ini bukan memuji-muji lho, tapi saya rasa Belanda terlalu <em>rebel</em> untuk diatur-atur dalam etos kerja yang menuntut bahkan robotik seperti negara-negara Eropa maju lainnya. Belanda juga maju, namun <em>dalam cara, jalan, dan gayanya sendiri</em>. Mungkin kalau kita ingin &#8220;meramal&#8221; melesatnya perkembangan yang bisa dicapai otak, jiwa, dan tenaga makhluk-bernama-manusia di masa mendatang kita bisa lihat benih-benihnya di Belanda ini. Mana lagi coba, negara yang mengaplikasikan tenaga dancer sebagai pembangkit listrik? Di Belanda, namanya <a title="eco-clubbing" href="http://www.spiegel.de/international/world/0,1518,570869,00.html" target="_blank">Eco-clubbing</a>. Bayangkan saja, hura-hura clubbing sambil menyelamatkan lingkungan. Sangat manusiawi, bukan <img src='http://kompetiblog.studidibelanda.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> ? Masalah asmara? Tentu kita tahu, mengesahkan pernikahan yang tak terbatasi sekat-sekat jenis kelamin dapat dilakukan di Belanda. Konon, ini pertanda toleransi mereka yang tinggi. Belum lagi, parlemen Belanda adalah yang pertama memikirkan peraturan agar setiap ibu yang berkeputusan memiliki anak benar-benar <a title="dutch mom" href="Dutch Parliament to Consider Forcing &quot;Unfit Mothers&quot; to Take Contraception" target="_blank">mampu</a> merawat anaknya dengan baik. Wedeww, mereka memikirkan warganya bahkan yang sebelum mereka lahir &#8230;. Bahkan, sepenuhnya mengakui dunia virtual sebagai bagian dari kehidupan real-nya, pengadilan Belanda adalah yang pertama kali memberikan hukuman secara nyata terhadap kasus <a href="http://arstechnica.com/gaming/news/2008/10/dutch-court-imposes-real-world-punishment-for-virtual-theft.ars" target="_blank">pencurian virtual</a>. Sepertinya, tidak ada yang tak mungkin bagi pikiran-pikiran bandel nan visioner di Belanda.</p>
<p>Kedua, secara pergaulan internasional, Belanda eksis abis. Ia menjadi pusat peradilan internasional di dunia, termasuk Mahkamah Internasional. Ia juga menjadi pusat organisasi-organisasi utama pergerakan berbasis partisipasi masyarakat level dunia seperti Greenpeace. Pergerakan semacam ini  sudah menunjukkan dirinya sebagai embrio global community, sesama orang-orang yang peduli, bersolidaritas terhadap satu isu dan memperjuangkan bersama-sama. Kurang gaul apa lagi jika kita berkesempatan mereguk wawasan dan berinteraksi di Belanda ini?</p>
<p>Pertanyaan saya adalah, dalam setiap pergaulan biasanya ada yang menjadi pihak yang eksis dan ada juga yang menjadi cecunguk saja. Itu lho, orang-orang yang selalu jadi korban <em>bully</em>. Kita, orang Indonesia ini, ingin jadi pihak yang mana? Sampai kapan kita cuek-cuek saja dalam pergaulan internasional dikenal sebagai pengekspor tenaga kerja pembantu rumah tangga terbesar? Disia-sia pula di luar negeri. Masa&#8217; sih kita tidak geregetan dan kesal dengan posisi sebagai cecunguk dalam pergaulan internasional tersebut. Kapan kita mau mewarnai pergaulan global community itu dengan warna jiwa kita? Studi setinggi-tingginya dan bersetia ikuti <em>passion</em>-mu, itu tentu menjadi kuncinya!</p>
<p>Salam kenal dan terima kasih telah membaca tulisan sederhana ini &#8230; <img src='http://kompetiblog.studidibelanda.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> Tunggu aku di Belandamu!</p>
<p><a href="http://nadya.wordpress.com/2009/05/01/jiwa-jingga/" target="_blank">Nadya</a></p>
<p>Kategori: Non-wartawan</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/jiwa-jingga.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berlabuh ke Salah Satu Jantung Peradaban Modern Dunia</title>
		<link>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/berlabuh-ke-salah-satu-jantung-peradaban-modern-dunia.html</link>
		<comments>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/berlabuh-ke-salah-satu-jantung-peradaban-modern-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 09:26:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hlasmana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>

		<category><![CDATA[Belanda]]></category>

		<category><![CDATA[global community]]></category>

		<category><![CDATA[komunitas global]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kompetiblog.studidibelanda.com/?p=2273</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah perbicangan masa sekolah dahulu, suatu kali diantara beberapa pilihan saya untuk pergi mengenal dunia dengan segala kemajemukannya, seorang sahabat pernah bertanya, “Apa alasanmu memasukkan Belanda ke dalam daftar negara yang patut dikunjungi selama hidup kita, memang apa keistimewaannya?”.
Sambil tersenyum saya menjawab, “Sederhana saja… karena Belanda memiliki fasilitas modern yang lengkap untuk menghargai keberadaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left">Dalam sebuah perbicangan masa sekolah dahulu, suatu kali diantara beberapa pilihan saya untuk pergi mengenal dunia dengan segala kemajemukannya, seorang sahabat pernah bertanya, “Apa alasanmu memasukkan Belanda ke dalam daftar negara yang patut dikunjungi selama hidup kita, memang apa keistimewaannya?”.</p>
<p style="text-align: left">Sambil tersenyum saya menjawab, “Sederhana saja… karena Belanda memiliki fasilitas modern yang lengkap untuk menghargai keberadaan manusia seutuhnya”. Dan jawaban itu kemudian mengawali penjelasan panjang diantara kami tentang keinginan dan harapan saya untuk melabuhkan diri suatu saat kelak ke sebuah daratan yang dihuni sebuah bangsa besar yang nenek moyangnya pernah menjajah begitu lama di negeri ini.<span id="more-2273"></span></p>
<p style="text-align: left">Percakapan singkat itu –yang terjadi sekitar sepuluh tahun lalu ketika masa-masa sekolah dahulu –hingga kini masih berbekas di ingatan saya. Dan beruntungnya saya, meski tak pernah ada lagi percakapan semacam itu, secuil ingatan tentangnya masih tersimpan hingga kini. Tentang sebuah keinginan yang tak pernah terbayang apakah mungkin terwujud ataupun tidak, namun hati begitu bersemangat membicarakannya. Dan mengenang semua hal tersebut, saya mencoba berandai-andai dan menarik kembali benak ke masa itu, “Apa ya, dahulu alasan sebenarnya yang membuat Belanda begitu menarik hati ini sehingga layak menjadi sebuah negeri pilihan yang patut dikunjungi?”. Pikiran saya menerawang jauh, mengorek simpanan memori, melangkahi masa-masa sebelumnya, bahkan jauh sebelum percakapan diantara saya dan teman saya terjadi.</p>
<p style="text-align: left">Perlahan saya mengumpulkan sisa-sisa ingatan dan mencoba menghubungkannya.</p>
<p style="text-align: left">Hal pertama yang saya ingat dengan jelas adalah guru bahasa Inggris di sekolah menengah pertama yang membuat saya begitu tertariknya pada Belanda. Kali pertama ia bercerita tentang negeri yang tanahnya lebih rendah dari lautan ini adalah usai mengunjungi putrinya yang menetap di salah satu kota terbesar negeri kincir angin ini. Entah karena gaya penceritaannya yang menarik atau memang isi cerita yang jauh dari kehidupan yang dapat saya bayangkan saat itu, saya terhipnotis mendengarnya. Yang membuat saya, seorang ABG (Anak Baru Gede, istilah saat ini –red.) bak pecinta yang langsung jatuh hati pada pandangan pertama hingga berani berandai-andai untuk waktu cukup lama, “Apa yang akan saya lakukan kelak jika suatu saat memiliki kesempatan berlabuh di negerinya Vincent van Gogh ini?“</p>
<p style="text-align: left">Saya sendiri lupa apa bayangan saya saat itu tentang Belanda. Hanya saja yang jelas, jika kini saya memiliki kesempatan berlabuh di Belanda pastilah mata dan perasaan ini silau dengan segala perbedaan yang ada dengan tanah kelahiran saya yang baru belajar demokrasi sesungguhnya. Di negeri yang menjunjung tinggi hak asasi manusia ini, segala kelebihan ragam fasilitasnya memberi kesempatan pada setiap orang untuk berkembang. Penegakkan hukum yang adil, kesempatan yang sama dalam pendidikan dan kesehatan, rendahnya kesenjangan sosial berdasar pada pendapatan masyarakat, juga fasilitas layanan publik adalah sedikit dari begitu banyaknya perbedaan yang saya ketahui.</p>
<p style="text-align: left">Disamping itu, keterbukaan masyarakat Belanda pada dunia luar menjadikan ragam budaya dari berbagai penjuru dunia berbaur dan berbagi, berasimilasi dalam padu padan nan serasi yang membuatnya layak menjadi pilihan sebagai salah satu pintu masuk dan penilaian menuju kota-kota lain di Eropa. Belanda yang terbuka menerima siapapun yang datang dengan segala perbedaannya. Hangat dan terbuka. Suasana ini sangat berbeda dengan beberapa negeri lain yang berupaya ekslusif. Sementara Belanda menghargai segala perbedaan itu.</p>
<p style="text-align: left">Lalu kemudian, jika impian itu benar-benar terwujud dan  saya memiliki kesempatan berlabuh ke negeri “bendungan air” ini, satu impian yang ingin saya rasakan pertama kali di sana adalah merasakan naik kereta listrik. Dengan mengunjungi stasiun dan merasakan transportasi seluruh lapisan masyarakat ini beserta fasilitas layanan yang tersedia tentu akan menjadi awal yang baik untuk menilai kondisi masyarakat setempat. “Bagaimana ya rasanya naik kereta listrik di Belanda? Apakah sama rasanya seperti naik kereta jabotabek kelas ekonomi saat jalur padat yang membuat siapapun mandi keringat di dalamnya? Atau apakah saya akan di dekati calo karcis kereta saat terlihat bingung di stasiun? Atau mungkinkah saya jua menemukan pengamen, pengemis, pedagang kaki lima dan semacamnya di dalam kereta listrik di Belanda…?” Wah gak kebayang deh keinginan tuk merasakannya. Pasti seru!</p>
<p style="text-align: left">Itu keinginan yang pertama. Keinginan saya yang lain adalah mengunjungi pusat-pusat budaya di berbagai kota di Belanda. Mulai dari yang tradisional sampai yang modern. Pertama saya akan memulainya dengan mengunjungi bangunan-bangunan tua yang ada, lalu ke museum dan situs bersejarah, dan dilanjutkan ke tempat masyarakat umumnya kongkow menghabiskan waktu luang.<em> Hmmm.. pasti keren deh!</em> Baik modern maupun klasik, tempat-tempat tersebut pasti memberik kesan tak terlupakan yang mungkin saya cari selama ini. Kota yang mengkombinasikan kultur tradisional dan modern dengan segala penghargaan keasliannya di tengah-tengah kehidupan masyrakat modern.</p>
<p style="text-align: left">Dan selain tempat dan fasilitas umum, satuhal yang tak kalah penting adalah untuk bergaul bersama komunitas masyarakat intelektual di sana. Untuk belajar tentang banyak hal yang bermanfaat dan tentunya <em>ngampus</em> di negeri Ratu Beatrix ini tentu adalah sebuah pengalaman yang takkan terlupakan. Setidaknya saya akan merasakan bagaimana sih serba-serbi lingkungan akademik di Belanda, “Apakah cara mengajar dosen di sana lebih interaktif? Apakah para mahasiswanya tahu apa alasan mereka memilih suatu program studi kuliah? dan kalau boleh menebak, pastinya, lingkungan akademik di Belanda pastinya minus tawuran antar pelajar dan mahasiswa ya&#8230; <em>Ah</em> membayangkan semua itu rasanya hati jadi tak sabar tuk berangkat ke Belanda”.</p>
<p style="text-align: left">Menuju ke sana, tiba melalui pelabuhan terbesar Eropa, Rotterdam, atau mendarat di Schiphol, salah satu bandara terbesar Eropa, baik datang maupun pergi melalui darat maupun laut tentu akan memberi pengalaman unik tersendiri. Dan jujur saja saya tak mampu membayangkannya kecuali menguatkan harapan diri semoga kelak langkah kaki ini dapat membekaskan tapak-tapak kaki di hamparan taman yang penuh dengan hamparan bunga tulip yang merekah indah. Mewujudkan sebuah mimpi menjadi bukti.</p>
<p style="text-align: left">Belanda, negeri dimana angin berputar begitu kencang, laut bergelombang dengan dahsyatnya, dan iklim berotasi menjadi begitu dingin dan begitu panasnya, bagi saya adalah contoh positif dimana kehidupan dinamis masyarakat berbagi dengan alam dan segala isinya. Dan keadaan inilah yang membuat diri terus menguatkan keinginan tuk melihat dengan mata kepala sendiri kondisi kehidupan masyarakat terlindungi identitas perbedaan mereka dengan jaminan hak asasi sepenuhnya. Menerima kenyataan itu,  tiba-tiba saja saya jadi kembali ingat sepenggal pertanyaan percakapan dengan teman saya dahulu, “Jadi kalau begitu untuk tahu, mengenal, dan mengerti semua perbedaan itu berarti kita harus pergi ke negeri kincir angin”.</p>
<p style="text-align: left">Mengingat jawaban yang sama -yang dahulu perrnah saya beri padanya -rasanya masih relevan saat ini, “Secara realistis adalah memang tidak harus, tetapi sebagai seorang yang berharap melihat secara nyata sebuah perbandingan kehidupan masyarakat yang taat pada sistem yang berlaku dan penghargaan terhadap hak-hak manusia… saya kira tak ada salahnya! Kita belajar pada banyak hal secara langsung maupun tidak langsung, kita hidup berbagi dan menerima, kita mencoba saling memahami dan memperkenalkan diri dalam sebuah ikatan dengan bersilaturahmi. Dan bila kunjungan ke Belanda seperti sebuah silaturahmi untuk perbaikan diri, kenapa tidak?”</p>
<p style="text-align: left">Teman yang mendengar jawaban itu tak melanjutkan pertanyaan keculai tersenyum dan mengangguk. Sayup-sayup terdengar pertanyaan dari dalam hati sendiri, “Kapan ya saya dapat berlabuh ke Belanda?”</p>
<p style="text-align: left">Salam,</p>
<p style="text-align: left">Hary Lasmana</p>
<p style="text-align: left">
<p style="text-align: left">Link artikel: http://hlasmana.dagdigdug.com/2009/04/25/berlabuh-ke-salah-satu-jantung-peradaban-modern-dunia/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/berlabuh-ke-salah-satu-jantung-peradaban-modern-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kompetiblog Studi di Belanda resmi ditutup</title>
		<link>http://kompetiblog.studidibelanda.com/news/kompetiblog-studi-di-belanda-resmi-ditutup.html</link>
		<comments>http://kompetiblog.studidibelanda.com/news/kompetiblog-studi-di-belanda-resmi-ditutup.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 02:49:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin3</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[Kompetiblog]]></category>

		<category><![CDATA[neso]]></category>

		<category><![CDATA[Neso Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Studi di Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kompetiblog.studidibelanda.com/?p=2544</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya atas nama panitia kami ingin mengucapkan terima kasih atas perhatian teman-teman blogger untuk ikut serta dalam kompetisi ini. Sesuai pemberitahuan sebelumnya, peserta yang telah melengkapi datanya dengan benar, telah diverifikasi oleh admin. Dan setelah ini kami tidak akan melakukan verifikasi peserta. Tercatat 574 blogger telah terverifikasi sebagai peserta kompetiblog, 228 blogger yang telah melakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya atas nama panitia kami ingin mengucapkan terima kasih atas perhatian teman-teman blogger untuk ikut serta dalam kompetisi ini. Sesuai pemberitahuan sebelumnya, peserta yang telah melengkapi datanya dengan benar, telah diverifikasi oleh admin. Dan setelah ini kami tidak akan melakukan verifikasi peserta. Tercatat 574 blogger telah terverifikasi sebagai peserta kompetiblog, 228 blogger yang telah melakukan posting, dan total 316 posting di blog masing-masing. Selamat!</p>
<p>Selanjutnya mulai hari ini proses penjurian akan dilaksanakan. Panitia tidak akan  menjawab segala pertanyaan tentang kompetiblog selama proses penjurian dilaksanakan sampai benar-benar pemenang resmi diumumkan. Keputusan tim juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Pengumuman pemenang akan dipublish melalui blog <a href="http://kompetiblog.studidibelanda.com/">kompetiblog</a>, <a href="http://studidibelanda.com">studidibelanda</a> dan <a href="http://nesoindonesia.or.id">Neso Indonesia</a>.</p>
<p>Selanjutnya beberapa posting yang sudah masuk ke blog kompetiblog akan tetap kami publish secara bertahap.</p>
<p>Semoga berhasil!</p>
<p>Salam,</p>
<p>Admin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kompetiblog.studidibelanda.com/news/kompetiblog-studi-di-belanda-resmi-ditutup.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Integrasi Kebudayaan Luar Untuk Meningkatkan Budaya Sendiri Melalui Komunitas Global</title>
		<link>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/integrasi-kebudayaan-luar-untuk-meningkatkan-budaya-sendiri-melalui-komunitas-global.html</link>
		<comments>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/integrasi-kebudayaan-luar-untuk-meningkatkan-budaya-sendiri-melalui-komunitas-global.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 09:56:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>davidgultom</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>

		<category><![CDATA[Kompetiblog]]></category>

		<category><![CDATA[Studi di Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kompetiblog.studidibelanda.com/?p=2248</guid>
		<description><![CDATA[Kebudayaan tidak pernah mempunyai bentuk yang abadi, tetapi terus menerus berganti-gantinya alam dan zaman. (Dewantara; 1994)
Kebudayaan atau culture adalah keseluruhan pemikiran dan benda yang dibuat atau diciptakan oleh manusia dalam perkembangan sejarahnya. Kebudayaan sifatnya bermacam-macam, akan tetapi oleh karena semuanya adalah buah adab (keluhuran budi), maka semua kebudayaan selalu bersifat tertib, indah berfaedah, luhur, memberi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kebudayaan tidak pernah mempunyai bentuk yang abadi, tetapi terus menerus berganti-gantinya alam dan zaman.</em> (Dewantara; 1994)</p>
<p>Kebudayaan atau culture adalah keseluruhan pemikiran dan benda yang dibuat atau diciptakan oleh manusia dalam perkembangan sejarahnya. Kebudayaan sifatnya bermacam-macam, akan tetapi oleh karena semuanya adalah buah adab (keluhuran budi), maka semua kebudayaan selalu bersifat tertib, indah berfaedah, luhur, memberi rasa damai, senang, bahagia, dan sebagainya. Kebudayaan dapat dibagi menjadi 3 macam dilihat dari keadaan jenis-jenisnya:</p>
<p>•	Hidup-kebatinan manusia, yaitu yang menimbulkan tertib damainya hidup masyarakat dengan adat-istiadatnya yang halus dan indah; tertib damainya pemerintahan negeri; tertib damainya agama atau ilmu kebatinan dan kesusilaan.</p>
<p>•	Angan-angan manusia, yaitu yang dapat menimbulkan keluhuran bahasa, kesusasteraan dan kesusilaan.</p>
<p>•	Kepandaian manusia, yaitu yang menimbulkan macam-macam kepandaian tentang perusahaan tanah, perniagaan, kerajinan, pelayaran, hubungan lalu-lintas, kesenian yang berjenis-jenis; semuanya bersifat indah (Dewantara; 1994).</p>
<p>Kebudayaan adalah aspek yang sangat penting bagi suatu bangsa. Mengapa? Karena Kebudayaan juga merupakan jati diri dari bangsa itu sendiri. Bagaimana kebudayaan Indonesia sebenarnya berkembang dari jaman dahulu hingga sekarang? Berikut ini akan penulis kutipkan mengenai sejarah nenek moyang bangsa Indonesia dari tulisan Mochtar Lubis pada tahun 1986 dalam pidato kebudayaannya yang berjudul “Situasi Akar Budaya Kita”.</p>
<blockquote><p><em>Nenek moyang kita adalah bagian dari arus perpindahan manusia yang bergerak di zaman lampau yang telah hilang sebagai hilangnya bayangan wayang dari layar sejarah, bergerak dari bagian Timur Eropa Tengah dan bagian Utara wilayah Balkan sekitar laut Hitam ke arah timur, mencapai Asia, masuk ke Tiongkok. Dan di Tiongkok arus perpindahan ini bercabang-cabang ke utara, timur dan selatan.</em></p>
<p><em>Arus selatan mencapai daerah Yunan, sedang bagian timur mencapai laut Indo Cina. Di sinilah tempat lahirnya budaya asal Indonesia. Manusia-manusia yang berpindah dan bergerak ke Asia dari Eropa Tengah dan Wilayah Balkan itu adalah orang Tharacia, Iliria, Cimeria, Kakusia, dan mungkin termasuk orang Teuton, yang memulai perpindahan mereka di abad ke-9 hingga abad ke-8 sebelum nabi Isa. Mereka membawa keahlian membuat besi dan perunggu.</em></p>
<p><em>Nenek moyang orang Indonesia yang telah berada terlebih dahulu dari mereka di daerah Dongson ini telah mengembangkan seni monumental tanpa banyak ornamentik yang dekoratif. Dari pendatang-pendatang baru ini mereka mengambil alih, menerima, dan mencernakan seni ornamentik pendatang-pendatang dari barat ini. Tidak saja dalam ornamentik, akan tetapi juga dalam hiasan tenunan (amat banyak persamaan antara hiasan tenun Indonesia dan Balkan umpamanya), dan juga dalam musik dan nyayian. Jaap Kunst, seorang ahli musik, juga ahli musik Indonesia mengindentifikasikan persamaan nyayian rakyat di pulau Flores dengan nyanyian rakyat di bagian timur Yugoslavia (Balkan). Kebudayaan Dongson menunjukkan lebih banyak persamaan dan kaitan dengan budaya Eropa dibanding budaya Cina.</em></p>
<p><em>Nenek moyang Dongson inilah yang bergerak ke selatan, dan kemudian mencapai Nusantara. Di Nusantara hampir tidak ada perpisahan antara zaman perunggu dan zaman besi. Hal ini sama juga terjadi di Indo Cina. Dalam penggalian situs-situs purbakala, perunggu dan besi selalu ditemukan bersama-sama. Hulu pisau dongson banyak berbentuk manusia, seperti keris Majapahit. <strong>Bentuk hulu pisau yang serupa juga ditemukan di Holstein (Jerman), Denmark, dan di Kauskasus</strong>.</em></p>
<p><em>Tetapi, sebelum nenek moyang dari Dongson turun ke Nusantara, kelompok-kelompok manusia lain telah terlebih dahulu datang. Selama zaman es terakhir, kurang lebih 15.000 tahun sebelum Masehi, sejarah bumi Nusantara menunjukkan bahwa sebagian besar Nusantara bagian barat menyatu dengan daratan Asia Tenggara, Jawa, Sumatera, Kalimantan dan wilayah yang kini laut Jawa. Ketika es berakhir, permukaan laut naik kembali, dan terbentuklah gugusan pulau-pulau seperti yang kita kenal kini. Sejarah bumi Nusantara telah berpengaruh besar pada perkembangan manusia Melayu-Polinesia. Mereka menjadi bangsa maritim, yang kurang lebih 1000 tahun sebelum nabi Isa megarungi Samudera Hindia. Manuskrip tua Hebrew dari masa akhir 2000 dan permulaan 1000 sebelum tahun Nabi Isa telah menyebut perdagangan kulit manis dari berbagai tempat sepanjang pantai timur Afrika.</em></p>
<p><em>Dalam melakukan ini, mereka juga telah membawa berbagai kekayaan budaya ke Madagaskar dan Afrika. Di Madagaskar mereka telah menetap di belahan barat pulau itu. Hingga kini masih terlihat berbagai persamaan kata antara bahasa Madagaskar dan bahasa suku Manyaan di Kalimantan. Ke timur, nenek moyang Melayu-Polinesia ini berlayar jauh ke pedalaman pasifik, menetap di berbagai kepulauan, dan mereka paling ke timur mencapai Easter Island, pulau terjauh ke timur dari Nusantara.</em></p></blockquote>
<p>Dari pemaparan di atas jelaslah bahwa budaya bangsa kita berakar jauh ke zaman prasejarah. Jelas pula bahwa kita telah mewarisi budaya dunia yang ada di masa itu, di samping nenek moyang kita telah memberi pula sumbangan pada budaya-budaya bangsa lain di seberang Samudera Hindia, serta menciptakan berbagai budaya di Madagaskar, dan di kepulauan-kepulauan Samudera Pasifik.</p>
<p><strong>Tantangan kita sebagai Rakyat Indonesia</strong></p>
<p>Mengingat dari sejarah kebudayaan kita ini sebagai pewaris langsung dari mereka, apakah kita harus merasa gentar menghadapi abad ke 21 dan seterusnya?Seharusnya TIDAK! Kita harus berani memeriksa diri secara cermat, kita harus berani keluar dari zona nyaman kita, kita harus banyak belajar dan mengaplikasikan apa yang kita pelajari tersebut. Apa kekurangan-kekurangan kita kini, hingga kita tidak memiliki kemampuan, keberanian dan daya cipta untuk berbuat yang besar-besar bagi bangsa kita dan umat manusia hari ini?</p>
<p>Apa yang dapat dilakukan oleh bangsa ini?</p>
<p>Apa yang dapat saya lakukan sebagai salah satu warganegara bangsa ini?</p>
<p>Sebelum menjawab pertanyaan – pertanyaan di atas, coba kita telaah terlebih dahulu bagaimana kebudayaan barat yang mulai masuk dan berkembang di negara kita.  <strong></strong></p>
<p><strong>Kebudayaan Barat Di Indonesia</strong></p>
<p>Proses akulturasi di Indonesia tampaknya beralir secara simpang siur, dipercepat oleh usul-usul radikal, dihambat oleh aliran kolot, tersesat dalam ideologi-ideologi, tetapi pada dasarnya dilihat arah induk yang lurus: ”the things of humanity all humanity enjoys”. Terdapatlah arus pokok yang dengan spontan menerima unsur-unsur kebudayaan internasional yang jelas menguntungkan secara positif.</p>
<p>Akan tetapi pada refleksi dan dalam usaha merumuskannya kerap kali timbul reaksi, karena kategori berpikir belum mendamaikan diri dengan suasana baru atau penataran asing. Taraf-taraf akulturasi dengan kebudayaan Barat pada permulaan masih dapat diperbedakan, kemudian menjadi overlapping satu kepada yang lain sampai pluralitas, taraf, tingkat dan aliran timbul yang serentak. Kebudayaan Barat mempengaruhi masyarakat Indonesia, lapis demi lapis, makin lama makin luas lagi dalam (Bakker; 1984).</p>
<p>Apakah kebudayaan Barat modern semua buruk dan akan menggerogoti Kebudayaan Nasional yang kita gagas? Oleh karena itu, kita perlu merumuskan definisi yang jelas tentang Kebudayaan Barat Modern. Frans Magnis Suseno dalam bukunya ”Filsafat Kebudayan Politik”, membedakan tiga macam Kebudayaan Barat Modern:</p>
<ol>
<li> Kebudayaan Teknologi Modern<br />
Kebudayaan Teknologis Modern itu kontradiktif. Dalam arti tertentu dia bebas nilai, netral. Bisa dipakai atau tidak. Pemakaiannya tidak mempunyai implikasi ideologis atau keagamaan. Seorang Sekularis dan Ateis, Kristen Liberal, Budhis, Islam Modernis atau Islam Fundamentalis, bahkan segala macam aliran New Age dan para normal dapat dan mau memakainya, tanpa mengkompromikan keyakinan atau kepercayaan mereka masing-masing. Kebudayaan Teknologis Modern secara mencolok bersifat instumental.</li>
<li>Kebudayaan Modern Tiruan<br />
Kebudayaan Modern Tiruan itu terwujud dalam lingkungan yang tampaknya mencerminkan kegemerlapan teknologi tinggi dan kemodernan, tetapi sebenarnya hanya mencakup pemilikan simbol-simbol lahiriah saja, misalnya kebudayaan lapangan terbang internasional, kebudayaan supermarket (mall), dan kebudayaan Kentucky Fried Chicken (KFC).<br />
Kebudayaan Modern Tiruan hidup dari ilusi, bahwa asal orang bersentuhan dengan hasil-hasil teknologi modern, ia menjadi manusia modern. Padahal dunia artifisial itu tidak menyumbangkan sesuatu apapun terhadap identitas kita. Identitas kita malahan semakin kosong karena kita semakin membiarkan diri dikemudikan. Selera kita, kelakuan kita, pilihan pakaian, rasa kagum dan penilaian kita semakin dimanipulasi, semakin kita tidak memiliki diri sendiri. Itulah sebabnya kebudayaan ini tidak nyata, melainkan tiruan, blasteran.</li>
<li>Kebudayaan-Kebudayaan Barat<br />
Kita keliru apabila budaya blastern kita samakan dengan Kebudayaan Barat Modern. Kebudayaan Blastern itu memang produk Kebudayaan Barat, tetapi bukan hatinya, bukan pusatnya dan bukan kunci vitalitasnya. Ia mengancam Kebudayaan Barat, seperti ia mengancam identitas kebudayaan lain, akan tetapi ia belum mencaploknya. Italia, Perancis, Spanyol, Jerman, Belanda bahkan barangkali juga Amerika Serikat masih mempertahankan kebudayaan khas mereka masing-masing. Meskipun di mana-mana orang minum Coca Cola, kebudayaan itu belum menjadi Kebudayaan Coca Cola.<br />
Orang yang sekadar tersenggol sedikit dengan kebudayaan Barat palsu itu, dengan demikian belum mesti menjadi orang modern. Ia juga belum akan mengerti bagaimana orang Barat menilai, apa cita-citanya tentang pergaulan, apa selera estetik dan cita rasanya, apakah keyakinan-keyakinan moral dan religiusnya, apakah paham tanggung jawabnya (Suseno; 1992</li>
</ol>
<p>Dalam pemaparan tentang akar budaya di atas tadi telah kita ketahui bahwa nenek moyang kita adalah nenek moyang yang tangguh dan bangsa ini telah mampu melakukan akulturasi secara positif sehingga kita bisa <strong>mengintegrasikan kebudayaan luar untuk meningkatkan budaya sendiri</strong>. Namun kita harus melihat secara riil bagaimanakah keadaan budaya kita hari ini.</p>
<p>Sajiman Surjohadiprojo dalam pidato kebudayaannya di tahun 1986 menyampaikan tentang persoalan kita hari ini, <strong>yaitu kurang kuatnya kemampuan mengeluarkan energi pada manusia Indonesia.</strong> <strong>Hal ini mengakibatkan kurang adanya daya tindak atau kemampuan berbuat. </strong>Rencana konsep yang baik, hasil dari otak cerdas, tinggal dan rencana dan konsep belaka karena kurang mampu untuk merealisasikannya. Akibat lainnya adalah pada <strong>disiplin dan pengendalikan diri.</strong> Lemahnya disiplin bukan karena kurang kesadaran terhadap ketentuan dan peraturan yang berlaku, <strong>melainkan karena kurang mampu untuk membawakan diri masing-masing menetapi peraturan dan ketentuan yang berlaku.</strong> Kurangnya kemampuan mengeluarkan energi juga berakibat pada besarnya ketergantungan pada orang lain. Kemandirian sukar ditemukan dan mempunyai dampak dalam segala aspek kehidupan termasuk <strong>kepemimpinan dan tanggung jawab.</strong></p>
<p>Menurut beliau kelemahan ini merupakan Kelemahan Kebudayaan. Artinya, perbaikan dari keadaan lemah itu hanya dapat dicapai melalui pendekatan budaya. Pemecahannya harus melalui pendidikan dalam arti luas dan Nation and Character Building (Surjohadiprodjo, dalam ”Pembebasan Budaya-Budaya Kita; 1999).</p>
<p>Mochtar Lubis juga dalam kesempatan yang sama saat Temu Budaya tahun 1986, menyampaikan bahwa kondisi budaya kita hari ini ditandai secara dominan oleh ciri:</p>
<ol>
<li>Kontradiksi gawat antara asumsi dan pretensi moral budaya Pancasila dengan kenyataan.</li>
<li>Kemunafikan.</li>
<li>Lemahnya kreativitas.</li>
<li>Etos kerja brengsek.</li>
<li>Neo-Feodalisme.</li>
<li>Budaya malu telah sirna ( Lubis, 1999).</li>
</ol>
<p><strong>Komunitas Global Sebagai Sarana untuk Integrasi Budaya Luar</strong></p>
<p><strong> </strong>Komunitas global tentunya mempunyai peran yang sangat penting dalam proses memperkenalkan budaya asing kepada negara lain. Komunitas yang pastinya terdiri dari orang – orang atau mahasiswa yang berasal dari berbagai Negara di segala penjuru dunia ini akan sangat bermanfaat untuk memberikan opini / ide – ide untuk bertukar informasi mengenai budaya yang berkembang di Negara mereka masing.</p>
<p>Budaya barat nampaknya mendapatkan penilaian yang negatif dari bangsa kita, dan juga dalam kenyataan nya, banyak diantara kita yang justru “terjebak” dalam budaya barat tersebut. Sebagai contoh adalah adanya budaya untuk tidur bersama (kumpul kebo) sebelum mengikat janji pernikahan. Tentu saja ini adalah budaya yang sangat tidak baik. Namun, di balik budaya barat yang negative tersebut ada banyak budaya mereka yang posititf dan patut kita contoh.</p>
<p><strong>Lalu kalau seperti itu, apa peran komunitas global pada kita?</strong></p>
<p>Warganegara yang berasal dari Negara-negara maju tentunya banyak memiliki karakter-karakter dan juga budaya yang sangat bermanfaat untuk dapat kita lihat dan contoh seperti budaya mereka untuk menghargai waktu, datang tepat waktu apabila ada janji dengan seseorang. Saya merasa bangsa kita ini perlu belajar banyak dalam hal disiplin. Dan kalau masalah disiplin kita dapat belajar banyak dari kebudayaan bangsa Jepang. Orang jepang sangat disiplin dalam waktu dan berbagai hal. Mereka sangat tidak suka untuk terlambat apabila ada janji atau kegiatan lainnya.</p>
<p>Apabila kita lihat dari tulisan Mochtar Lubis yang mengatakan ada 6 kondisi budaya kita yang terjadi saat ini, 4 di antaranya adalah Kemunafikan, Lemahnya kreativitas, Etos kerja brengsek, Budaya malu telah sirna. Dari 4 kondisi ini mungkin kita dapat belajar banyak dari budaya beberapa Negara maju melalui komunitas global ini. Tentunya dalam komunitas itu kita dapat memperhatikan bagaimana warganegara dari Negara-negara lain dalam menjalankan hari-hari nya dan tentunya kita dapat langsung bertukar pikiran untuk mengatasi hal ini.</p>
<p>Mungkin kita dapat belajar dari bangsa A mengenai tingginya kreativitas mereka dalam menciptakan suatu produk atau karya seni atau apa pun itu. Kita juga dapat belajar dari bangsa B bagaimana etos kerja mereka sangat baik sehingga menghasilkan ekonomi Negara mereka semakin maju dan berkembang. Kemudian kita dapat belajar dari bangsa C, D, atau E mengenai budaya-budaya lain yang tentunya positif dan dapat berguna untuk membangun bangsa ini.</p>
<p>Pastinya akan lebih banyak lagi hal-hal yang dapat dipelajari apabila kita berada dalam komunitas global, akan banyak pengetahuan baru yang kita dapat. Pola pikir dan cara pandang dalam menghadapi masalah juga akan berbeda untuk setiap bangsa dalam menyikapinya. Dan apabila kita dapat mengintegrasikan kebudayaan luar yang positif ke kebudayaan bangsa kita, tentunya saya yakin bangsa ini akan menjadi bangsa yang lebih maju dan berkembang dari pada sebelumnya.</p>
<p>Oleh karena itu, apabila saya mendapat kesempatan untuk berada di komunitas global, saya akan melakukan seperti yang saya tuliskan di atas dan tentunya saya juga bermimpi bila sudah masuk di komunitas itu saya akan mengobservasi dan menggali dalam-dalam ide-ide mereka serta kebudayaan mereka yang positif dan menuangkan nya dalam bentuk tulisan agar dapat dilihat dan dibaca oleh banyak orang terutama bangsa Indonesia. Dan harapan saya bangsa ini dapat berkaca dari kebudayaan-kebudayaan luar yang positif guna memperbaiki kebudayaan bangsa yang kurang baik, sehingga pada akhirnya ini semua adalah untuk kemajuan bangsa kita bersama.</p>
<p>Referensi:</p>
<ul>
<li>Bakker, JWM. 1999. ”Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar”. Penerbit Kanisius; Yogyakarta.</li>
<li>Dewantara, Ki Hajar. 1994. ”Kebudayaan”. Penerbit Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa; Yogyakarta.</li>
<li>Sarjono. Agus R (Editor). 1999. ”Pembebasan Budaya-Budaya Kita”. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama; Jakarta. Suseno, Franz Magnis. 1992. ”Filsafat Kebudayaan Politik”. Penerbit Gramedia Pustaka Utama; Jakarta.</li>
</ul>
<p><a href="http://davidgultom.wordpress.com/2009/04/29/integrasi-kebudayaan-luar-untuk-meningkatkan-budaya-sendiri-melalui-komunitas-global/">source: http://davidgultom.wordpress.com/2009/04/29/integrasi-kebudayaan-luar-untuk-meningkatkan-budaya-sendiri-melalui-komunitas-global/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/integrasi-kebudayaan-luar-untuk-meningkatkan-budaya-sendiri-melalui-komunitas-global.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari pa Martin: Ketika Granit Tak Lagi Menjadi Terjal&#8230;</title>
		<link>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/belajar-dari-pa-martin-ketika-granit-tak-lagi-menjadi-terjal.html</link>
		<comments>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/belajar-dari-pa-martin-ketika-granit-tak-lagi-menjadi-terjal.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 09:50:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alim84</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>

		<category><![CDATA[Kompetiblog]]></category>

		<category><![CDATA[Studi di Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kompetiblog.studidibelanda.com/?p=1749</guid>
		<description><![CDATA[


www.nmo.nl.com

Dia menguasai seni menggali data di lapangan. Puluhan tahun dia melakukan penelitian di Indonesia tentang NU, tarekat, pesantren, dan perkembangan gerakan Islam kontemporer. Kajian-kajian yang dilakukannya begitu komprehensif dan tidak memihak. Pa Martin, demikian saya dan teman-teman menyapa Prof Martin Van Bruinessen,  juga mampu menguraikan hasil penemuannya dengan cukup terinci. 
Suatu siang di awal Maret [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px;"><img class="size-medium wp-image-479" src="http://menjadikosong.files.wordpress.com/2009/04/1788_puwwwnmonl.jpg?w=300&amp;h=187" alt="www.nmo.nl.com" width="300" height="187" /></p>
<p class="wp-caption-text">www.nmo.nl.com</p>
</div>
<blockquote><p><em><strong>Dia menguasai seni menggali data di lapangan. Puluhan tahun dia melakukan penelitian di Indonesia tentang NU, tarekat, pesantren, dan perkembangan gerakan Islam kontemporer. Kajian-kajian yang dilakukannya begitu komprehensif dan tidak memihak. Pa Martin, demikian saya dan teman-teman menyapa Prof Martin Van Bruinessen,  juga mampu menguraikan hasil penemuannya dengan cukup terinci. </strong></em></p></blockquote>
<p>Suatu siang di awal Maret lalu, dengan santai pa Martin mendatangi kami yang tengah menantinya. Rupanya pa Martin memilih berjalan kaki dari hotel menuju kantor kami, The Fahmina Institute Cirebon, meskipun sebenaranya kami telah menawarkan diri untuk menjemputnya. Hari itu adalah hari kedua pa Martin di Cirebon untuk melakukan penelitian terbarunya. Ya, kedatangan pa Martin ke lembaga kami adalah kali ke sekian setelah beberapa kali melakukan penelitian di Cirebon. Dan kali ini, kedatangannya tak melulu untuk keperluan penelitian terbarunya, melainkan siap mengawal kami selama sebulan melakukan penelitian. Selama sebulan pula, kami terus berbagi pengalaman ketika di lapangan.</p>
<p>Tentu saja, momen itu tak mungkin kami abaikan. Saya bangga bisa berguru langsung dengan sang ahli di bidang penelitian. Berbagi dan mendengarkan cerita tentang pengalaman-pengalamannya di lapangan adalah sesuatu yang sangat berharga. Pa Martin juga tak segan-segan menceritakan kegagalan-kegagalannya ketika melakukan penelitian. Dia begitu <em>care</em>. Dalam setiap lakunya, ia seakan ingin menunjukkan bahwa kita setara dan sedang sama-sama belajar. Tak heran mengapa Anas Saidi, peneliti LIPI, terus memuji kedisiplinan dan kegigihan pa Martin ketika mencari data di lapangan. Karena sosok aslinya memang luar biasa meski telah dibalut kesederhanaanya.</p>
<p>Pa Martin adalah salah seorang peneliti senior asal Belanda. Ia belajar fisika teoritis dan matematika di Universitas Utrecht, Belanda (1964-1971). Pada 1978, ia berhasil mempertahankan disertasi doktornya yang berjudul <em>“Agha, Shaikh and State” </em>yang membahas sejarah dan struktur sosial masyarakat Kurdi, juga di Universitas Utrecht. Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai supervisor LIPI pada proyek penelitian mengenai ulama Indonesia, sejak 1 Mei 1991, ia ditunjuk INIS sebagai dosen tamu di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 251px;"><img class="size-full wp-image-482" src="http://menjadikosong.files.wordpress.com/2009/04/nu_bookwwwletuunl2.jpg?w=241&amp;h=354" alt="www.let.uu.ln" width="241" height="354" /></p>
<p class="wp-caption-text">www.let.uu.ln</p>
</div>
<div class="snap_preview">Pertama kali mengenal pa Martin, saya hanya mengetahui dari sebuah bukunya yang berjudul<em> ”NU, Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru” </em>terbitan LkiS tahun 1994. Di buku itulah pa Martin menulis kajian paling komprehensif dan tak-memihak mengenai <em>Nahdhatul &#8216;Ulama</em> (NU), sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, untuk saat itu. Dari buku ini saya coba ulas sedikit. Dulu, ketika mendengar kata “NU”, barangkali yang segera tergambar di benak orang pada umumnya adalah sosok bersarung dan berpeci, yang bejalan menunduk sambil satu tangannya memegang kitab kuning, sementara satu tangan lainnya menggenggam untaian tasbih. Atau jika tidak, NU bagi sementara orang tak lebih dari salat dengan usalli, doa qunut, tarawih 23 rakaat, tawassul kepada para wali, dan seterusnya.Mungkin tak banyak yang memperhatikan bahwa di luar semua gambaran stereotip diatas, NU sebenarnya adalah salah satu denyut terpenting dalam totalitas kehidupan negeri ini. Dengan keteguhannya (yang diimbangi dengan fleksibilitas) dalam memegang apa yang dengan nada sedikit minor disebut sebagai “tradisionalisme”, dan dengan segala kekhasan dalam gaya berpolitiknya, NU telah banyak mewarnai bukan saja wacana keagamaan, tapi juga setting sosial kemasyarakatan, bahkan politik dan ideologi bangsa. Tapi rasanya telah menjadi keluhan yang klasik, bahwa NU dalam kurun waktu yang cukup lama telah begitu saja terabaikan dalam kajian ilmiah yang serius, terutama karena kebanyakan pengamat telah sejak dini tersilaukan oleh “modernisme” dan “kaum modernis”, sementara NU pada umumnya dianggap tidak dapat digolongkan ke situ.</p>
<p>Di buku itu, pa Martin mampu menguraikan dengan cukup terinci keterabaian itu. Ia menyesalkan betapa NU kerap hanya disebut secara sambil lalu, ketika sebuah kajian mestinya memberikan proporsi perhatian yang lebih pada NU. Selain buku ini, tentu saja masih banyak sejumlah buku hasil penelitian pa Martin yang tidak harus saya sebutkan di ruang ini.</p>
<p><strong>Tak Ada Sekat Meski Ragam</strong></p>
<blockquote><p>Tak ada sekat meski dalam ragam. Kata-kata itu aku pilih karena sejatinya di Belanda, betapa tidak terlihat adanya garis pemisah antara warga negari penjajah dan penduduk wilayah penjajahannya. Ini seperti yang dirasakan Sutan Sjahrir sang sosialis, yang menginjakkan kakinya pada akhir musim panas 1929 di Hindia Belanda.  Sjahrir, pemuda itu, segera terpikat oleh suasana masyarakat belanda yang begitu hidup, seakan tak pernah beristirahat. Pun hal yang sama aku rasakan betapa pa Martin mengajarkan kita menjadi sosok yang menghargai siapapun yang menjadi lawan bicara kita.</p></blockquote>
<p>Pa Martin, sosok asal Belanda itu, tak henti-hentinya mengajarkan bagaimana menjadi pendengar yang baik. Ia juga terus mengajarkan kita agar bersikap jujur sebagai peneliti. Sekalipun berhadapan dengan obyek penelitian yang tingkat kesulitannya cukup tinggi, diupayakan agar tetap jujur. Jujur dalam menganalisis data, maupun jujur dalam membuka identitas sebagai peneliti ketika di lapangan. Sedangkan jujur dalam menuliskan informan dalam sebuah penelitian kasus yang sensitif, bisa dilakukan dengan inisial. Karena menurut dia, hal ini berkaitan dengan keselamatan informan. Sehingga harus dirahasiakan ataupun dianonimkan dalam rangka melindungi keselamatan korban.</p>
<p>“Dalam kondisi paling sulit, apakah peneliti tidak boleh jujur? Bagi saya ini sangat sulit, karena walau bagaimanapun penelitian kita akan diketahui juga. Contohnya Fahmina meneliti golongan yang berbeda prinsip dengan Fahmina, kalau kita bilang kita dari Fahmina, mungkin kita akan ditolak. Jadi mungkin kita bisa dengan cara lain. Seperti “berbohong” itu tadi. Tapi apakah kita akan merasa betah? Kalau saya pribadi, berusaha menghindari itu. Jadi waktu itu, saya perlu pendekatan dengan orang lain. Karena kalau tidak begitu, maka mereka akan curiga,” papar Martin pelan dengan bahasa Indonesia yang cukup tertata.</p>
<p>Ya, sejatinya apa yang diungkapkannya hampir seperti yang ditekankan dalam buku-buku panduan penelitian. Tetapi kawan, mendengar pengalaman pa Martin sungguh sangat berbeda. Apalagi sosoknya yang selalu mau bersabar mendengarkan dan menimpali obrolan kami. Bahkan tak jarang saya terhanyut dalam setiap pengalamannya di beberapa negara seperti ketika di bercerita tentang Islam di Maroko. Ya, mengenal dan belajar bersama pa Martin, membuat kami termotivasi dan optimis bahwa kami mampu menyelesaikan penelitian kami baru-baru ini.</p>
<blockquote><p>Dan bagi saya, pa Martin telah mampu menerjang granit itu, sekat itu, dan sejumlah paradoksal yang selalu menjadi kegelisahan sebelum terbukti kebenarannnya. Dari situ saya berfikir, sosok pa Martin yang secara kewarganegaraan saja mampu meneliti di Indonesia dengan ragam budaya dan suku, kenapa saya tidak? Tapi kini saya yakin mampu menerjang granit itu, agar tak lagi menjadi terjal. Dan saya akan terus beajar di manapun dan pada siapapun. Tak peduli apapun komunitasnya, karena saya hanya ingin belajar lagi, menulis lagi, berpikir lagi, bertindak lagi, dan seperti yang diungkapkan James YC. Yen, 1920, pada Perform PDPP, 2003, “Datanglah kepada rakyat, hidup bersama rakyat, belajar dari rakyat, rencanakan bersama rakyat, bekerja bersama rakyat, mulailah dengan apa yang diketahui rakyat, ajarilah dengan contoh, belajarlah dengan bekerja”.</p></blockquote>
<p>Dan di Holland, saya ingin menjadi bagian dari komunitas global itu. Dimana tak ada sekat meski dalam ragam. Beragamnya budaya menyebabkan Belanda menjadi negara pertemuan ilmu pengetahuan, ide-ide dan budaya dari seluruh dunia. Negeri dengan segudang kebebasan, bahkan hal-hal yang terkait dengan agama, termasuk Islam, terus dicoba didekonstruksi.</p></div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/belajar-dari-pa-martin-ketika-granit-tak-lagi-menjadi-terjal.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Janggut dan Komunitas Global</title>
		<link>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/pak-janggut-dan-komunitas-global.html</link>
		<comments>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/pak-janggut-dan-komunitas-global.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 03:38:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alamanda</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>

		<category><![CDATA[Kompetiblog]]></category>

		<category><![CDATA[Studi di Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kompetiblog.studidibelanda.com/?p=2144</guid>
		<description><![CDATA[Dua puluh tahun yang lalu, saya berkenalan dengan seorang pengelana. Ia senantiasa menelusuri jalan, ke manapun jalan itu membawanya, untuk mengunjungi tempat-tempat baru. Dalam penelusuran dan pengembaraannya itu, ia selalu menemukan berbagai petualangan yang mengasyikkan, mendebarkan dan fantastis. Sejak kali pertama kami berkenalan, ia langsung menceritakan berbagai petualangannya, kapan pun kami bertemu.
Seperti layaknya pengelana, kawan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua puluh tahun yang lalu, saya berkenalan dengan seorang pengelana. Ia senantiasa menelusuri jalan, ke manapun jalan itu membawanya, untuk mengunjungi tempat-tempat baru. Dalam penelusuran dan pengembaraannya itu, ia selalu menemukan berbagai petualangan yang mengasyikkan, mendebarkan dan fantastis. Sejak kali pertama kami berkenalan, ia langsung menceritakan berbagai petualangannya, kapan pun kami bertemu.</p>
<p>Seperti layaknya pengelana, kawan saya ini hidup sederhana. Nyaris setiap kali kami bertemu, ia memakai pakaian serba hijau tua, kontras dengan rambut dan jenggotnya yang memutih. Bahkan sepatunya pun berwarna hijau, seperti topi berhias bulu warna oranye yang selalu melekat di kepalanya. Di bahunya tersandang sebuah buntelan, yang dibawanya dengan bantuan sepotong kayu.</p>
<p>Saya tidak tahu berapa lama dia sudah hidup sebagai pengelana. Saya hanya mengetahui dia telah melakukan ini selama bertahun-tahun. Dan sebagai gadis kecil yang tahu bersopan santun, saya tak pernah menanyakan usianya. Saya bersyukur karena di usia yang tampaknya sudah tidak muda lagi, tak terlihat tanda-tanda petualangannya akan segera diakhiri. Selama bertahun-tahun, sekali dalam sepekan, saya bertemu dengannya. Setiap pertemuan selalu mengesankan, dan sepanjang waktu saya tidak berjumpa dengannya, saya akan mengingat-ingat kisah yang dia ceritakan, memutar ulang gambarannya di kepala saya, berharap saya ikut serta dalam petualangannya itu.</p>
<p><img src="file:///C:/DOCUME~1/ARIONO~1/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-2238" title="pakjanggut400" src="http://kompetiblog.studidibelanda.com/wp-content/uploads/2009/04/pakjanggut400-300x291.jpg" alt="pakjanggut400" width="300" height="291" /></p>
<p>Namanya Pak Janggut.<br />
Di negara asalnya ia bernama Douwe Dobbert. Ia adalah tokoh ciptaan Piet Wijn dan Thom Roep, pembuat komik dan penulis cerita dari Belanda. Bersama Pak Janggut dan buntelan ajaib yang selalu menyediakan apa saja yang ia butuhkan, saya berkelana mengelilingi Eropa, Jepang, Afrika, Amerika dan bahkan Negeri Satwa. Saya dikenalkan pada berbagai tokoh dengan bermacam-macam kepribadian. Mulai dari yang iseng, usil dan sering bertengkar seperti tiga penyihir Pompit, Rika dan Domoli; yang pemberani dan tabah seperti Nana si gadis Afrika, yang manis seperti Omika; yang lucu seperti si burung Dodo, yang pengetahuannya luas seperti Kuping Pengingat, bahkan yang jahat dan tak kunjung jera berbuat onar seperti Ludo Lampart dan Wredulia si penyihir.</p>
<p>Tak hanya orang-orang yang kami temui, Pak Janggut juga membawa saya menelusuri keindahan alam dan kekayaan plasma nutfah yang beragam di berbagai belahan dunia. Hutan dan sabana di Afrika, musim salju ganas di Eropa, laut Selatan yang misterius, hal-hal yang hanya bisa ditemui pada lansekap dan rumah di Jepang. Tak seorang pun dapat menyangkal betapa cerita Pak Janggut mengandung nilai pendidikan dan moral yang sangat kaya. Nirkekerasan, anti perbudakan, anti rasialisme, sensitif gender, kemurahan hati untuk berbagi, pelajaran tentang karma, usaha untuk menghadapi dan mengalahkan rasa takut, hanyalah sebagian dari sekian banyak nilai-nilai yang bisa dipelajari dari cerita ini, lengkap dengan pengetahuan dan tambahan wawasan yang sangat berguna. Dalam hal ini, Pak Janggut memberikan dasar bagi setiap anak yang membacanya, termasuk saya, dasar pengetahuan dan nilai yang memungkinkan saya untuk mengenal dunia dengan segala keragamannya tanpa harus pergi keluar dari rumah.</p>
<p>Dalam semangat yang sama, saya menangkap hal-hal serupa juga ditawarkan oleh pendidikan di Belanda. Tentu dengan kedalaman dan penekanan tertentu pada beberapa hal. Kekuatan utama tentu terletak pada kualitas pendidikan dengan standar internasional. Hal ini disebabkan oleh struktur pendidikan yang lebih sempurna, penguasaan ilmu yang lebih baik, tingkat kedisiplinan yang lebih tinggi dan budaya belajar yang jauh lebih matang daripada yang ada di Indonesia. Pendidikan yang berkualitas akan memberikan pengetahuan dan wawasan yang memadai untuk berhubungan dan bersaing di tingkat global.</p>
<p>Aspek lain dari pendidikan dengan standar internasional adalah pertemuan dan pengalaman langsung untuk bergaul di tingkat global, karena standar pendidikan yang tinggi mengundang hadirnya mahasiswa internasional, yang saat ini di Belanda jumlahnya mencapai kisaran 70,000 orang. Angka ini merupakan catatan untuk mahasiswa yang pendidikannya disponsori oleh pemerintah. Belum termasuk yang membiayai pendidikannya secara mandiri, atau melalui jalur swasta. Menjadi mahasiswa di Belanda berarti belajar dan dapat berinteraksi dengan begitu banyak mahasiswa internasional dengan beragam karakter dan kebudayaan yang datang dari lebih dari 45 negara di dunia. Ini tentu membuat kemampuan akademik dan kemampuan bahasa teruji.</p>
<p>Menyoal bahasa, yang ditahbiskan sebagai bahasa internasional tentu adalah Bahasa Inggris. <a title="Laporan Newsweek" href="http://www.newsweek.com/id/49022/output" target="_self">Laporan Newsweek</a> mengenai bahasa menyebutkan bahwa trend pemakaian bahasa tidak berada dalam satu jalur yang lurus dengan pertambahan populasi. Jadi dalam sekurangnya dua dekade dari sekarang, bukan bahasa China atau India yang jumlah penuturnya paling banyak di dunia, melainkan bahasa Inggris. Artikel tersebut bahkan menyebut kepastian bahwa perbandingan jumlah penutur dwi-bahasa (bilingual) dengan penutur asli (native speaker) adalah 3:1. Artinya, sebagian besar warga dunia akan bicara dalam Bahasa Inggris dengan variasi ragam lisan yang membentang dari Afrika sampai Asia, termasuk Australia dan Amerika Latin. Fenomena ini bahkan dapat dijumpai di negara-negara yang memiliki huruf dan bahasanya sendiri, seperti Jepang, Korea dan China. Dengan 1402 program studi internasional yang 1388 diantaranya diajarkan sepenuhnya dalam bahasa Inggris, struktur pendidikan di Belanda jelas disusun dalam langkah yang sejalan dengan kecenderungan masa kini.</p>
<p>Keseluruhan aspek tersebut dirangkum dalam sejarah kebudayaan dan kaitan erat antara Indonesia dan Belanda. Saya yakin banyak mahasiswa Indonesia yang seketika merasakan kedekatan Belanda sebagai rumah kedua segera setelah mereka sampai di sana karena riwayat peradaban yang saling bersinggungan dalam banyak hal ini. Terlebih berbagai fasilitas dan kemudahan yang disediakan pemerintah Belanda, mampu menunjang kebutuhan setiap mahasiswa Indonesia. Hingga selain jarak yang jauh dari tanah air dan cuaca yang berbeda, setiap mahasiswa Indonesia dapat menjadi dirinya sendiri, dan merasakan keakraban yang melekat pada berbagai sudut bangunan tua, peninggalan sejarah dan keramahan yang bersahabat.</p>
<p>Artinya, pendidikan di Belanda mampu memberikan modal yang menyeluruh untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga seseorang mampu menjadi bagian dari komunitas global secara utuh. Berdiri sejajar dan terlibat pada upaya-upaya global untuk menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik. Dan pada saat yang sama, peningkatan kualitas itu juga disertai dengan kesadaran untuk tetap berakar pada jati diri dan kebudayaan Indonesia.</p>
<p>http://alamanda.blogspot.com/2009/04/pak-janggut-dan-komunitas-global.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/pak-janggut-dan-komunitas-global.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Studi di Belanda!</title>
		<link>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/jangan-studi-di-belanda.html</link>
		<comments>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/jangan-studi-di-belanda.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 03:22:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Putri Trapsiloningrum</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>

		<category><![CDATA[Kompetiblog]]></category>

		<category><![CDATA[Studi di Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kompetiblog.studidibelanda.com/?p=2181</guid>
		<description><![CDATA[Mama: “Mbak puput, jangan ke Belanda ah abis lulus.”
Saya: “Emang kenapa sih, mams?”
Mama: “Belanda tuh jauh mbak, kamu tuh cewe. Nanti kalo sakit atau kenapa kenapa gimana? Kan jadi tambah repot. Mau S2 kok musti jauh-jauh. Udah, S2 di Indonesia ajah, masih banyak universitas yang bagus”
Saya: “&#8230;&#8230;”
Dear Mams,
Percakapan ini adalah percakapan yang kita lakukan beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Mama: “Mbak puput, jangan ke Belanda ah abis lulus.”<br />
Saya: “Emang kenapa sih, mams?”<br />
Mama: “Belanda tuh jauh mbak, kamu tuh cewe. Nanti kalo sakit atau kenapa kenapa gimana? Kan jadi tambah repot. Mau S2 kok musti jauh-jauh. Udah, S2 di Indonesia ajah, masih banyak universitas yang bagus”<br />
Saya: “&#8230;&#8230;”</p></blockquote>
<p>Dear Mams,</p>
<p><a href="http://ec.europa.eu/idabc/servlets/ImageServer?fuseAction=fetchImage&amp;id=27045&amp;width=300&amp;height=356"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 250px; height: 300px;" src="http://ec.europa.eu/idabc/servlets/ImageServer?fuseAction=fetchImage&amp;id=27045&amp;width=250&amp;height=300" border="0" alt="" /></a>Percakapan ini adalah percakapan yang kita lakukan beberapa bulan yang lalu ketika mengutarakan niat Puput ke Belanda untuk meneruskan jenjang S2. Aku tau, mama adalah salah satu contoh dari banyak orang tua yang masih berpikiran “kolot” atau bahasa kerennya konservatif, di tengah-tengah jaman yang semakin mengglobal ini. Bahkan mama masih membawa-bawa masalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gender" target="_blank">gender</a> dalam urusan yang beginian, seolah-olah wanita akan lemah dan lebih banyak membutuhkan bantuan jika tinggal jauh dari keluarga.. <span style="font-style:italic;">*sigh*</span></p>
<p>Hummph, andaikan mama tau, sebenarnya bukan hanya permasalahan universitas bagus atau tidaknya. Aku tahu dan paham bahwa banyak juga universitas yang bagus di sini. Tetapi keinginan melanjutkan S2 di Belanda semakin besar karena mendengar <a href="http://www.nesoindonesia.net">info</a> tentang melanjutkan studi di Belanda, dan bahwa pada tahun 2008 ada 2 universitas Belanda (<a href="http://www.uu.nl" target="_blank">University Utrecht</a> dan <a href="http://www.leiden.nl" target="_blank">University Leiden</a>) berada dalam <a href="http://www.arwu.org/rank2008/ARWU2008_TopEuro(EN).htm">top 100 of world universities</a>. Terus yang jadi keunggulan, mayoritas universitas disana sudah menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, ditambah fakta bahwa Bahasa Inggris sudah banyak dipakai dan menjadi bahasa pergaulan di sana.</p>
<p>Selain itu karena Puput benar-benar ingin “belajar dan studi” tentang hidup yang sesungguhnya di negeri orang, setelah selama 5 tahun belajar hidup di kota orang, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Bandung" target="_blank">Bandung</a>. Aku ngerasa masih haus akan pengalaman dan masih ingin melihat warna dunia lebih banyak, mams. Aku masih merasa bodoh dan naif.</p>
<p>Mama tau?<br />
Akibat kedekatan historis Belanda dengan Indonesia, Puput gak akan merasa sendirian disana karena <a href="http://www.indonesia.go.id/id/index.php/content/view/347/files/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=8478&amp;Itemid=683">jumlah WNI yang tinggal di Belanda</a> lebih dari 15.000 orang ditambah dengan <a href="http://studidibelanda.com/2009/04/01/jumlah-mahasiswa-indonesia-nomor-lima-di-belanda/">jumlah mahasiswa Indonesia</a> yang cenderung terus meningkat. Apalagi dengan adanya keberadaan <a href="http://www.ppibelanda.org">Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda</a>. I believe I still can feel the smell of home from there because I&#8217;ll become a part of this new family. Tetapi disamping perasaan yang homy itu, Puput juga pengen ngerasain perasaan excited karena bisa merasakan suasana yang begitu berwarna, berada di dalam satu lingkungan negara dimana terjadi pembauran ide-ide, <a href="http://www.baroquelife.org/">budaya klasik barok</a> dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Popular_culture">budaya populer</a> berbaur menjadi satu, begitu juga dengan budaya timur dan barat.</p>
<p><a href="http://pro.corbis.com/images/YM010342.jpg?size=67&amp;uid={11B6D800-493E-4A8A-9962-A8C9827B45F7}"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 300px;" src="http://pro.corbis.com/images/YM010342.jpg?size=67&amp;uid={11B6D800-493E-4A8A-9962-A8C9827B45F7}" border="0" alt="" /></a>Mungkin mama khawatir akan masalah pengaturan keuangan Puput, mama sering bilang kalo aku boros, tukang jajan dan jalan-jalan. Memang ma, Belanda terletak di jantung Eropa dan itu akan lebih memudahkan aku berkunjung ke daratan Eropa lainnya, apalagi di sana sudah menggunakan mata uang <a href="http://www.geocities.com/bayusutikno/kuliah/EURONOMI.DOC">Euro yang menggantikan Gulden</a> sejak disepakati penggunaannya tanggal 1 Januari 1999 dan itu yang membuat aku lebih leluasa dalam bertransaksi di hampir seluruh daratan Eropa. Tapi mama gak perlu khawatir. Aku berjanji akan mengambil <a href="http://www.nesoindonesia.com/home/news-events/news-archive/2008/pilih-kuliah-di-luar-negeri-atau-dalam-negeri-2">part-time job</a> demi mensupport keuanganku, apalagi mayoritas mahasiswa di sana menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, jadi aku bisa ngirit dan lebih sehat tentunya.</p>
<p>Atau mama takut aku ga betah karena masalah makanan?<br />
Well, don’t you worry mams. Pada tahun 2006 tercatat ada <a href="http://www.mail-archive.com/bango-mania@yahoogroups.com/msg00030.html">10 restoran Indonesia di Belanda</a>.Kalo lagi males masak dan apesnya aku ga ktemu resto Indonesia, aku bisa ke resto Cina, Jepang, India yang banyak terdapat disini, atau mungkin ke <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/McDonald%27s">McDonald&#8217;s</a> yang nampaknya rasanya udah jadi global dan cocok di lidah semua orang. Tapi untuk lebih iritnya sih, masak adalah solusi terbaik ma, apalagi di Belanda gak gitu susah nemuin bahan-bahan untuk masakan Indonesia. Di Belanda juga ada <a href="http://www.ranesi.nl/zonapelajar/11294617/ctown100407">China Town</a> yang biasanya menjual bahan-bahan masakan timur kalo aku susah ktemu bahan masakan negeri sendiri.<br />
Kalo mama khawatir sama masalah tempat tinggal, jangan juga khawatir. PPI Belanda juga bisa aku mintain tolong tentang informasi housing dan segala macem tetek bengeknya tinggal di sini.</p>
<p><a href="http://farm1.static.flickr.com/30/48300975_3cbf18256a.jpg?v=0"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 285px;" src="http://farm1.static.flickr.com/30/48300975_3cbf18256a.jpg?v=0" border="0" alt="" /></a>Oia. Mama pernah nonton <a href="http://www.imdb.com/title/tt0356150/">Eurotrip</a>?<br />
Hmm, pastinya enggak yah. Klo pernah, pasti mama bakal tau sama yang namanya the famous <a href="http://red-light-district-amsterdam.com/">Red Light District of Amsterdam</a> where all the liberality-worshipers gather within one place. The legal prostitution, the legal marijuana and cannabis, and the legal same-sex marriage.<br />
Mama pasti pernah mendengar ribut-ribut tentang rencana <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/amerika/2009/01/25/brk,20090125-156819,id.html">kebijakan Obama</a> yang akan melegalkan aborsi, kan? Nampak jargon Amerika sebagai negara yang liberal dipatahkan oleh Belanda dalam hal kebijakan ini karena Belanda sudah melegalisasi aborsi, euthanasia, marijuana dan cannabis, sampai same-sex marriage. Yah, walaupun dibalik semua kebijakan itu masih terdapat beberapa kontroversi.</p>
<p>Yes, I want to experience and witness it all by myself, because I believe that’s what made <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Netherlands">Netherlands</a> as a unique country. Surely you can’t find it all anywhere, blend in one country, except in Netherlands. More or less, Netherlands has inspired me to reach my dream of study and living abroad.</p>
<p><a href="http://www.ucu.uu.nl/_pictures/other/academic%20building.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 250px; height: 285px;" src="http://www.ucu.uu.nl/_pictures/other/academic%20building.jpg" border="0" alt="" /></a>Aku pengen banget sekolah di tempat yang di foto disebelah mams, di <a href="http://www.uu.nl">Utrecht University</a>. Alhamdulillah klo dapet beasiswa. Selain aku pengen merasakan <a href="http://www.eurogates.nl/en_dutch_education_system/">kurikulum belajar di Belanda</a> yang pastinya beda dengan Indonesia dan belajar di kelas yang pake bahasa Inggris; aku pengen punya temen Yuki dari Jepang, Antonio dari Italia, Herman dari Jerman, Vladimir dari Rusia, Cho Chang dari Cina, Lynn dari Amerika, Erik dari Belanda, Sandra dari Amerika, Siti dari Malaysia, sampai Lilis dari Indonesia.</p>
<p>Aku pengen ngerasak’e numpak kreto ning tengah dalan gedhe, metik kembang tulip nganggo sandal wong londo sing koyo bakiak, poto-poto ning ngisor kincir angin karo ngarep gedung sing nyeni banget, nggawe pe er ning taman kota, nonton kroncongan ning <a href="http://www.indonesia.nl">KBRI</a>, nduwe konco sing lesbi opo ra homo, terus sopo ngerti yen bali isoh nulis puisi akeh koyo mbak <span style="font-weight:bold;"><a href="http://riekepitaloka.blogdetik.com">Rieke Diah Pitaloka</a></span> sing nduwi buku judul’e <span style="font-weight:bold;">Renungan Kloset, dari Cengkeh sampai Utrecht: Kumpulan Puisi</span>.</p>
<p>Mams, please don&#8217;t be worry and panic.<br />
Tidak mentang-mentang aku berada di negara yang nampaknya legal melakukan semuanya, maka aku akan bertingkah semaunya. Insya Allah aku akan diberikan kekuatan dalam menjaga diriku, juga mengontrol nafsuku dalam segala hal. Aku janji untuk inget terus akan pesan mama.</p>
<p>By living there, I know I would not walk my life on comfy cotton anymore, but on harsh strong rocks. Surely, I am more than realise about the consequences.<br />
But the most important thing, I’ll gain more lessons which can make me more mature than before.<br />
Because I&#8217;m not only wanna feel to live and study there; but I also want to witness, hear, feel, learn, and alive.</p>
<p>Warmest love from your dearest daughter,<br />
Putri Trapsiloningrum</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>source URL: <a href="http://puputpunyacerita.blogspot.com/2009/04/jangan-studi-di-belanda.html" target="_blank">http://puputpunyacerita.blogspot.com/2009/04/jangan-studi-di-belanda.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kompetiblog.studidibelanda.com/peserta/jangan-studi-di-belanda.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
